MUNGKID – Kasus dugaan bunuh diri yang dilakukan Ardi Suwito, 25, di Mapolsek Mertoyudan berbuntut panjang. Di tengah upaya penyelidikan perkara, tudingan miring mulai menerpa Korps Bhayangkara.

Saji SH, advokad dari Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang menuding aparat Polres Magelang telah lalai dalam menjalankan tugas. Kelalaian itulah yang mendorong terjadinya upaya bunuh diri saksi kasus penganiayaan dan perusakan rumah itu. Apalagi, pelaku menusuk perutnya sendiri dengan pecahan botol. Dan itu tak terdeteksi sejak awal oleh penyidik. Parahnya, aksi itu dilakukan Ardi saat masih dalam pengawasan polisi. Di Mapolsek pula.

“Polisi harus bertanggungjawab karena kealpaan,” tegasnya kemarin (25/3). Saji menilai ada kejanggalan dalam proses pemeriksaan saksi. Dia menuding polisi tidak menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana standar prosedur yang diatur dalam KUHAP.

Menurut Saji, saat Ardi diciduk dari rumahnya di Dusun Karet, Bulurejo, polisi tidak melengkapi diri dengan surat penangkapan atau penahanan. “Saya sudah tanya keluarga (Ardi). Bagaimana itu bisa terjadi,” sesalnya.

Sesuai prosedur hukum pidana, lanjut Saji, polisi bisa melakukan pemeriksaan saksi dalam tempo 1×24 jam. Selebihnya, jika tidak ada peningkatan status menjadi tersangka, saksi harus dipulangkan. Nah, dalam kasus ini, meski berstatus saksi, Ardi diperiksa sejak Minggu (20/3) pagi. Dengan begitu, saksi seharusnya sudah diperbolehkan pulang sehari setelahnya.

Namun, salah satu anggota keluarga yang menjenguk pada Senin (21/3) pagi mengadu kepada Saji bahwa saat itu Ardi tidak diperbolehkan pulang.

“Ini kekeliruan penyidik. Kelalaian. Apalagi penahananya tidak prosedural. Kecuali kalau (Ardi) terlibat kasus teroris. Itu lain,” tandasnya.

Dedek Ragil Saputro, 41, paman Ardi, mengungkapkan bahwa keponakannya itu dijemput ketua RW setempat bersama anggota Polsek Mertoyudan pada Minggu (20/3) pagi. Tak satupun anggota keluarga mengetahui kasus yang menyeret Ardi hingga digelandang ke Mapolsek Mertoyudan.

“Ada tekanan. Salah satu Polisi yang mengancam Ardi dan Fajar Sodik (adik Ardi) akan di sel (tahan),” katanya.

Kapolres Magelang AKBP Zain Dwi Nugroho mengatakan, pihaknya masih memperdalam penyelidikan kasus tersebut melalui pemeriksaan internal. Hal itu untuk menguak kemungkinan adanya tindak kelalaian petugas. “Masih kami selidiki. Kenapa bisa terjadi aksi (bunuh diri) di dalam mapolsek,” katanya.(ady/yog/ong)