BANTUL – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ menggerebek gudang distributor jamu tradisional ilegal di RT 3 Dusun Kenalan, Bangunjiwo, Kasihan, kemarin malam (29/3). Sebanyak 1.800-an dus jamu ilegal dari berbagai merek diamankan dalam razia ini.

Kasi Penyidikan BBPOM Suliyanto mengungkapkan, mulai mengendus peredaran jamu tradisional ini sejak pertengahan tahun lalu. Ada sejumlah toko di wilayah Kota Jogja, dan Bantul yang menjualnya.

“Kemudian satu bulan terakhir kami investigasi lalu kami gerebek hari ini,” terang Suliyanto di sela penggerebekan.

Suliyanto merinci ada tujuh merek produk ilegal yang tersimpan dalam gudang. Ribuan dus ini tersimpan di enam kamar. Tujuh merek ini adalah Madu Tawon Klanceng Pegal Linu, Madu Klanceng Asam Urat, Tawon Klanceng Putri Kinasih, Tawong Klanceng Putri Husada, Kunci Mas, dan Akar Rempah Alam. “Ilegal dan mengandung zat kimia,” jelasnya.

Sanksi berat menanti distributor jamu tradisional ilegal ini. Menurutnya, distributor terancam dijerat Pasal 196 dan Pasal 197 Undang-Undang No. 36 tentang Kesehatan.

“Pasal 196 ancamannya 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1,5 miliar. Lalu, Pasal 197 ancamannya 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar,” urainya.

Kendati begitu, pemilik jamu bernama Yoga Prasetyo hingga kemarin malam masih berstatus saksi. Warga Kaliabu, Gamping, Sleman ini akan menjalani pemeriksaan di BBPOM. Bila terbukti statusnya akan ditingkatkan menjadi tersangka.

Sementara itu, Yoga mengaku, tidak tahu-menahu jamu yang dijualnya ilegal. Jamu ini diperolehnya dari Banyuwangi, Jawa Timur. Pengiriman biasanya dititipkan truk pengangkut buah di pasar Gamping. “Kalau ada yang pesan ya saya kirimi,” tuturnya. (zam/ila/ong)