Dokumentasi pribadi

Tak Menyangka, Bangga Bisa Bersaing dengan Aktris Idola

Nama Sekar Sari kembali mengharumkan dunia sinema Jogjakarta. Setelah beberapa kali menyabet beragam penghargaan, kali ini ia dinobatkan sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam ajang Usmar Ismail Award. Penghargaan ini diperolehnya melalui peran Siti dalam film berjudul SITI.

DWI AGUS, Jogja
Meski tidak bisa hadir langsung di Balai Kartini Jakarta, Sabtu malam (2/4), Sekar sangat bangga menerima penghargaan ini. Terlebih dirinya harus bersaing dengan aktris perempuan lainnya. Seperti Tara Basro Tara Basro dengan film A Copy of My Mind dan Adinia Wirasti dengan film Kapan Kawin.

“Bersyukur sekali dapat apresiasi di negeri sendiri. Masuk nominasi saja sudah senang. Apalagi bersaing dengan aktris hebat yang filmnya juga saya gemari,” jelasnya kepada Radar Jogja melalui social media Facebook, Minggu dini hari kemarin (3/4).

Bersaing dengan aktris idola, Sekar mengaku sempat tak menyangka. Meski begitu dirinya bersyukur dapat bersanding dengan para idolanya dalam ajang Usmar Ismail Award. Ia pun sempat bertemu dengan Tara Basro dalam sebuah festival film internasional di Rotterdam, Belanda.

Kala itu Sekar juga menonton film yang dibintangi Tara Basro yang berjudul Another Trip to The Moon. Film ini merupakan karya sineas Jogjakarta, Ismail Basbeth. Ini tentu memacunya untuk mendalami ilmu peran secara maksimal.

“Penghargaan ini jadi suntikan energi untuk terus berkarya. Makin percaya sama upaya yang dilakukan dengan sepenuh hati,” jelasnya.

Penghargaan ini tentu melengkapi penghargaan yang diraih Sekar sebelumnya. Masih dengan tokoh yang sama, Siti, Sekar meraih Best Performance dalam Singapore International Film Festival 2014.

Dalam film berdurasi 95 menit itu, perempuan kelahiran Jogjakarta, 23 Desember 1988, ini mampu berperan secara apik. Memerankan sosok Siti yang berjuang untuk ekonomi keluarga. Format film hitam putih pun seakan mengangkat dua sisi kehidupan perempuan.

“Menjadi sosok ibu muda berumur 24 tahun yang menghidupi ibu mertuanya, Darmi, anaknya, Bagas dan suaminya, Bagus. Peran ini benar-benar menantang dan perlu riset peran secara mendalam,” kata lulusan Hubungan Internasional Fisipol UGM ini.

Film karya sutradara muda Eddie Cahyono masuk dalam nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik. Menjadi salah satu film yang terseleksi dari 146 judul film Indonesia. Film layar lebar yang terpilih merupakan periode tayang 1 Desember 2014 hingga 29 Februari 2016.

Untuk saat ini Sekar sedang fokus mengerjakan tesis tentang drama tari epos Panji di Bali dan Thailand. Ia mengungkapkan ada kesamaan antara beberapa kesenian Indonesia dan Thailand. Terutama dalam penokohan dalam kisah topeng panji.

“Di Thailand namanya Inao, kalau di Indonesia namanya Inu Kertapati. Ada kesamaan, karena kebudayaan Thailand memang terpengaruh budaya nusantara. Kisah Inao ini mengacu dari epos panji asal nusantara,” jelas mahasiswi yang mengambil program Choreomundus International Master on Dance Knowledge, Practice and Heritage University of Roehampton, London. (laz/ong)