BENY PRASETYA
NGINAP: Rifky Dalyono menunjukkan baju dan sandal yang dipersiapkan untuk menginap di sekolah. Hal itu dilakukan mengingat dirinya sering terlambat sampai ke sekolah.

Berangkat Nebeng Kakak, Sering Datang Terlambat

Punya kebiasaan buruk sering terlambat sampai ke sekolah, membuat Rifky Dalyono was-was saat ujian nasional (unas) berlangsung. Sebab, jika sampai datang terlambat dia akan kehilangan banyak waktu untuk mengerjakan soal. Tak hilang akal, siswa SMA Islam 1 Gamping ini akhirnya menginap di sekolah.

BENY PRASETYA, Sleman
LULUS tidaknya siswa tahun ajaran kali ini memang sudah diserahkan langsung ke sekolah masing-masing. Unas yang diselenggarakan kali ini hanya sebatas pemetaan mutu pendidikan. Namun tetap saja, jika siswa tidak mengikuti unas maka peserta langsung diganjar keterangan tidak lulus.

Dalam prosedur operasional standar ujian nasional tahun 2016 disebutkan, siapa yang terlambat maka harus meminta izin kepada panitia untuk mengikuti ujian. Ditambah peserta yang terlambat tidak mendapatkan kompenisasi waktu tambahan.

Hal tersebut menjadi masalah bagi salah satu siswa kelas 12 IPA SMA Islam 1 Gamping, Rifky Dalyono. Dia mengaku mengalami masalah dalam waktu. Dalyono, sapaannya, sudah langganan terlambat saat datang ke sekolah.

Bukannya tanpa sebab dia datang terlambat. Siswa yang tinggal di Dusun Nditem, Godean, Sleman ini terkendala kendaraan. Tak ada angkutan umum yang melewati desanya, dia pun lantas harus membonceng sang kakak ipar yang berangkat ke tempat kerja.

“Saya mbonceng kakak ipar saya. Tempatnya bekerja buka setengah delapan. Ibaratnya ikut arus, ya mau tak mau harus mengikuti kakak. Sampai sekolah kadang telat lima menit sampai sepuluh menit,” ungkapnya.

Namun, untuk unas ini dia tak mau terlambat sama sekali. Di hari pertama, dia datang sebelum sinar mentari pagi menyentuh sekolahannya. “Subuh sudah sampai di sekolah, penjaga sekolah saja belum bangun,” tandasnya.

Sedangkan untuk ujian hari kedua, Dalyono berencana menginap di sekolah. “Ini celana panjang dan sandal masih ada di tas, rencana mau menginap di sekolah,” tandas Dalyono sambil menunjukkan isi tasnya.

Semua yang dilakukan Dalyono itu hanya untuk satu tujuan, masuk tepat waktu saat ujian. Dia berharap bisa mengerjakan soal dengan tenang sehingga bisa lulus. “Saya tidak mau usaha saya dalam belajar, gagal hanya karena saya datang terlambat,” ujar siswa pecinta klub setan merah asal inggris itu.

Bagi siswa yang tak pernah suka menonton televisi ini, seluruh usahanya agar lulus ini didedikasikan untuk kedua orang tuanya. Selebihnya ijazah yang didapat akan digunakan untuk mengikuti pelatihan sebagai pegawai kapal. “Mau ikut pelayaran usai lulus,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Sekolah SMA Islam 1 Gamping Riana Hidayati mengungkapkan, Dalyono memang sering terlambat. “Kami juga memberikan kebijakan untuk anak yang sering mengalami keterlambatan diperbolehkan untuk menginap,” ungkap Riana.

Riana mengatakan, setidaknya ada dua orang dari lima puluh sembilan peserta yang diizinkan untuk menginap di sekolah, tentu saja salah satunya adalah Dalyono. Saat mendengar usaha Dalyono untuk berangkat lebih awal, pihak SMA Islam 1 Gamping memberikan apresiasi. “Usahanya patut diapresiasi,” tandasnya. (ila/ong)