SLEMAN – Seringnya pemadaman listrik yang menimpa RSUP Dr Sardjito selama bulan Maret lalu, dikeluhkan pihak manajemen. Matinya listrik itu dinilai menganggu pelayanan medis yang cukup krusial. Salah satunya proses operasi pasien yang dilakukan oleh dokter setempat.

Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Trisno Heru Nugroho mengatakan, berdasarkan catatannya, sepanjang Maret 2016 setidaknya terjadi pemadaman listrik sebanyak 19 kali. Dalam satu hari bahkan pemadaman sempat terjadi sampai belasan kali.

“Kami menghitung, selama Maret kemarin sering sekali terjadi pemadaman listrik. Rincianya pada tanggal 1 Maret satu kali, 14 Maret 11 kali, 15 Maret 4 kali, kemudian 31 Maret 3 kali,” ujar Heru kepada wartawan kemarin (7/4).

Seringnya terjadi pemadaman listrik itu, tentu saja membuat operasional medis RS Sardjito sangat terganggu. Sebab, pemadaman listrik kerap terjadi pada pagi dan siang hari. Selain itu, tidak ada pemberitahuan mengenai akan adanya pemadaman listrik dari PLN.

“Kami memang punya enam genset. Tapi proses mengalihkan dari sambungan PLN ke genset itu memerlukan waktu lima detik. Bisa dibayangkan kalau lagi proses operasi pasien, bagaimana paniknya tim dokter,” ungkapnya.

Selain itu, ia menguraikan pengeluaran selama satu jam untuk solar genset menghabiskan Rp 4,8 juta. Di sisi lain, selama satu bulan RS Sardjito selalu membayar listrik ke PLN mencapai lebih dari Rp 1 miliar.

Heru merinci selama 19 kali pemadaman listrik di bulan Maret, RSUP Dr Sardjito kerap melakukan operasi pasien. Setidaknya ada 40 operasi pasien yang dilakukan oleh tim dokter.

Sementara alat-alat selama jalannya operasi semua tergantung dengan listrik. Sehingga pemadaman benar-benar menganggu jalannya operasi. Terlebih apabila operasi yang dilakukan oleh dokter berhubungan dengan nyawa pasien.

“Tanggal 31 Maret itu tepat saat ada operasi jantung selama tujuh jam. Padahal saat operasi, fungsi jantung digantikan alat yang disuplai listrik, lalu tiba-tiba mati, Anda bisa bayangkan,” tandasnya.

Diakuinya, saat operasi jantung itu petugas langsung secepatnya bisa menghidupkan genset. Meski tidak sampai menimbulkan kematian pasien, ketegangan tim dokter yang melakukan operasi sangat luar biasa saat itu.

“Artinya pemadaman sangat menganggu operasional medis, misalnya inkubator bayi, lalu ventilator untuk pasien kristis, belum untuk yang di ICU,” urainya.

Heru berharap, PLN memperhatikan pelayanan publik, sehingga pelayanan seperti rumah sakit harus terus tanpa terganggu pemadaman listrik. “Pertama jelas berkaitan dengan hidup seseorang. Lalu kita bisa dikomplain, jadi kami memohon pelayanan publik diperhatikan agar tidak sering mati listrik,” katanya.

Sementara itu, Humas PT PLN Area Jogjakarta Paulus Kardiman saat dihubungi terpisah mengatakan, pihaknya akan mengecek apakah tidak ada pemberitahuan mengenai pemadaman listrik.

Sebab, menurutnya, setiap wilayah kerja seharusnya mendapatkan pemberitahuan sebelum terjadi pemadaman. “Tapi memang bulan Maret kemarin di Jogja terjadi cuaca ekstrem, sehingga di luar kontrol dari PLN,” ujarnya. (riz/laz)