GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
MISI KEBUDAYAAN: Opera boneka kayu yang menampilkan karakter dasar topeng Beijing menghibur siswa sekolah international Budi Utama, Jogjakarta, (8/4). Pertunjukan boneka kayu ini merupakan kesenian tradisional dari Tiongkok.
SLEMAN – Suara riuh terdengar keras di lapangan basket indoor Yayasan Pendidikan Budi Utama, Jumat siang (8/4). Anak-anak yang terdiri dari siswa TK hingga SMP siang itu menjadi saksi keindahaan kesenian Marionette. Ini adalah kesenian boneka kayu yang menjadi ciri khas provinsi Guangdong, Hainan, Tiongkok.

Secara khusus kelompok pelestari kesenian tradisi ini, Wu Hua, hadir di Jogjakarta. Sebelumnya mereka telah tampil di Bali, tepatnya di Jembatan Budaya School Bali. Mereka tampil dengan mengusung ciri khas dari boneka kayu ini.

“Memilih Jogjakarta dan Bali karena dua daerah ini memiliki akar yang kuat terhadap seni dan budaya. Di tempat ini pula kesenian Tiongkok dapat berkembang dan membaur dengan kesenian Nusantara,” kata Direktur Wu Hua Lixin Xian, Jumat (8/4).

Lixin Xian menjelaskan, kedatangannya ke Indonesia salah satunya menjalankan misi kebudayaan. Menghadirkan kesenian boneka kayu yang mungkin sangat jarang dipentaskan di Indonesia.

Misi seni ini merupakan aksi perdana Wu Hua datang ke Indonesia. Setelah ini kelompok yang membawa kotak kayu berisi bonek akan menuju Malaysia. Sama dengan di Indonesia, kelompok ini akan menampilkan kesenian boneka kayu.

Misi ini, lanjutnya, merupakan salah satu program dari Pemerintah Tiongkok khususnya Provinsi Guangdong. Fokusnya mengenalkan ragam kesenian tradisi Tiongkok. Sejak 5 April lalu, kedatangan Wu Hua menyasar sekolah-sekolah di Jogjakarta dan Bali.

Lixin Xian menjelaskan, dalam memainkan marioenette atau boneka kayu ini butuh ketelitian tingkat tinggi. Dalam satu boneka terdapat 14 utas tali yang terhubung ke tangan dalang. Jumlah tali ini semakin rumit, karena ada satu boneka kayu yang terdiri dari 30 utas tali.

Keunikan lain, boneka kayu ini tidak hanya bergerak layaknya teater boneka. Setiap boneka juga bisa menari layaknya manusia. Bahkan di tangan seorang professional, boneka ini bisa melukis sebuah kaligrafi Mandarin. Ini pula yang ditunjukkan dalam kunjungan Wu Hua ke Budi Utama.

“Ini adalah jati diri kesenian yang wajib dijaga dan lestarikan. Sama halnya dengan Indonesia yang memiliki ragam budaya di setiap provinsinya. Maka menjadi kewajiban bagi kami untuk menjaga dari generasi ke generasi,” jelasnya.

Lixin Xian menjelaskan, usia marionette sudah mencapai 600 tahun. Dia sendiri merupakan generasi ke delapan dari klannya yang mempertahankan kesenian ini. Upaya pelestarian ini, menurutnya, menjadi tanggung jawab bersama khususnya pemerintah.

Pemerintah melalui dinas terkait terus berupaya menjaga kesenian ini. Selain memberikan ruang, juga mendukung untuk tampil di luar daerah. Seperti yang dilakukan oleh Lixin Xian bersama Wu Hua yang melakukan kampanye seni hingga Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Wu Hua menampilkan enam karakter dasar topeng Beijing Opera. Di antaranya, Sheng yang merupakan karakter laki-laki, Dan yang melambangkan karakter perempuan, serta Chou untuk melambangkan karakter komikal.

“Lalu ada karakter Gong dan Po untuk karakter sepuh serta Jing untuk karakter wajah berias. Kesenian ini merupakan warisan budaya Ling Nan Tiongkok. Mampu menggambarkan kearifan yang dibalut dalam kreativitas seni dan budaya,” jelasnya.

Pembina Yayasan Pendidikan Budi Utama Djawadi menilai kehadiran para seniman ini sangatlah penting. Selain Lixin Xian ada juga Li Weiping, Li Jingxian, dan Li Hongxia. Keempatnya mengenalkan sebuah seni budaya selalu memiliki nilai yang indah.

“Khususnya mengenal seni budaya tradisi Tiongkok. Saya saja baru pertama kali melihat langsung kesenian ini,” ungkapnya. (dwi/ila)