JOGJA – Calon petahana bakal lebih diuntungkan dalam pertarungan Pemilihan Wali Kota (Pilwali) 2017 nanti. Sesuai dengan draf Peraturan KPU yang tinggal mendapatkan nomor dari pemerintah, mereka tak perlu mundur. Wali Kota Haryadi Suyuti (HS) dan Wakil Wali Kota Imam Priyono (IP) hanya berstatus nonaktif.

“Jika mereka ditetapkan, tidak perlu mundur,” ujar Komisioner KPU DIJ Bidang Publikasi dan Sosialisasi Faried Bambang Siswantoro, akhir pekan lalu.

Bambang mengungkapkan, setelah ditetapkan, Gubernur DIJ akan menunjuk penjabat pelaksana tugas wali kota. Sama seperti di Kabupaten Bantul, Gunungkidul, dan Sleman lalu. Penjabat akan bertugas sampai penetapan wali kota terpilih.

“Yang harus mundur, wali kota atau wakil wali kota yang maju dalam pemiliham gubernur di provinsi yang sama. Atau maju pemilihan wali kota dan gubernur di daerah yang berbeda,” terangnya.

Ketentuan mundur, lanjut Komisioner KPU DIJ Bidang Hukum Siti Ghoniyatun, berlaku untuk semua PNS, TNI/Polri aktif, atau pejabat publik lain. Itu pun harus ada surat pernyataan mundur sejak mendaftar di KPU DIJ. “Saat penetapan harus sudah mundur,” terangnya.

Termasuk bagi anggota DPRD. Mereka yang akan maju sebagai wali kota dan wakil wali kota, harus sudah mengantongi surat pernyataan pengunduran diri. “Maksud dari aturan ini, untuk memberikan kesempatan mereka maju di pemilihan yang diikuti,” jelasnya.

Menanggapi ketentuan tersebut, Wali Kota Haryadi Suyuti akan mematuhi aturan yang berlaku. Dia mengaku jika harus mundur, maka siap untuk mengundurkan diri. “Kalau tidak ada (ketentuan mundur) juga tidak aktif. Artinya, semua fasilitas negara sudah saya tanggalkan,” jelasnya.

Dari perkembangan suhu politik di Kota Jogja, pasangan kepala pemerintahan itu sudah pasti bakal maju. Jika IP akan maju dari PDI Perjuangan, HS sudah diusulkan Partai Golkar. Dia pun menyambut positif hal tersebut. “Saya sangat berterima kasih,” katanya.

Sedangkan PAN, juga sudah melangkah untuk kembali mengulang kemenangan tahun 2001 dan 2006 silam. Mereka telah menurunkan tim survei untuk melihat tingkat elektabilitas. “Yang jelas dari internal menguat antara Arif Noor Hartanto dan Heroe Poerwadi,” tandas Sekretaris DPD PAN Kota Jogja Rifki Listianto.

Rifki menegaskan, PAN sangat realistis untuk bertarung di 2017 nanti. Makanya, dalam survei nanti, komposisi pasangam juga akan diotak-atik. “Misalnya bagaimana kalau Mas Inung (Arif Noor Hartanto) kami pasangkan dengan HP (Heroe Poerwadi). Atau malah dengan HS dan IP,” kata Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Jogja ini.

Bahkan, tak sekadar dengan mengocok nama yang diinginkan masyarakat. Pihaknya, juga akan melihat keinginan masyarakat. “Kami juga tanyakan bagaimana sebenarnya kebutuhan mereka di lima tahun kepemimpinan wali kota ke depan,” tuturnya. (eri/ila)