HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
SERBA KAYU: Jam dari kayu buatan Iyows Permana yang menarik perhatian Wapres Jusuf Kalla (JK). Bahkan bingkai jam ini juga ditandatangani oleh JK.

Diberi Nama JKW, Di-launching oleh Wapres Jusuf Kalla

Iyos Permana, warga Pedukuhan Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, Kulonprogo layak berbangga. Ketekunannya membuat jam tangan dan frame kacamata berbahan kayu membuahkan hasil dan dilirik pasar. Hasil karyanya yang dipamerkan dalam Peringatan Hari Otonomi Daerah (Otda) XX menjadi buah bibir.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo
TIDAK tanggung-tanggung, jam produksinya kini memiliki nama JK Watch. Nama itu bahkan disematkan langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo pada rangkaian peringatan hari Otda XX yang dihadiri wakil Presiden Jusuf Kalla di Alun-Alun Wates, Senin (25/4). Bahkan launching JK Watch dilakukan langsung oleh Wapres Jusuf Kalla ditandai dengan menandatangani bingkai jam.

“Setelah tadi diskusi, akhirnya kami putuskan jam tersebut diberi nama JKW. Namanya representasi dari nama presiden dan wakil presiden. Nama jam ini juga bisa diuraikan menjadi Jokowi Watch, Jusuf Kalla Watch atau Jam Asal Kulonprogo,” kata Tjahjo Kumolo.

Mendagri mengungkapkan, jam ini juga memiliki keunikan karena terbuat dari kayu. Menurutnya, jika ini bisa dikembangkan, akan menambah kekayaan produk lokal Kulonprogo lainnya yang sudah membumi seperti Batik Gebleg Renteng, Airku, dan Tomira.

“Kalau dulu hanya tahu ada Batik Gebleg Renteng, kini ada jam kayu JK Watch,” ungkapnya
Iyos Permana menuturkan, dia tidak masalah dengan pemberian nama tersebut, justru menjadi kabanggan dan penghormatan yang tidak terkira. “Berterima kasih pada semua pihak yang telah mengapresiasi karya kami. Semoga menjadi tonggak kebangkitan untuk lebih mencintai produk dalam negeri,” tuturnya.

Sarjana Teknik Informatika ini menjelaskan, penghargaan tersebut menjadi sesuatu yang baru. Namun, dia tidak ingin sampai di sini saja. Dia akan terus bekerja dan berkarya untuk negeri ini. Dia tergugah untuk melestarikan lingkungan dengan memanfaatkan limbah kayu yang banyak ditemui di rumahnya. Kayu jati, mahoni ataupun nangka masih mudah dijumpai di wilayah perbukitan Menoreh.

“Jam tangan ini mulai dibuat sejak akhir tahun lalu. Namun, sudah ada ratusan pieces produk jam yang sudah dikerjakan,” jelasnya.

Sang istri, Dwi Rohayati menegaskan, produk jam kayu buatan suaminya ini juga sudah dipasarkan di beberapa kota di Indonesia. Termasuk ke beberapa negara Eropa. Dwi menuturkan, jam ini dibuat dari limbah mebel yang ada di rumahnya. Kebetulan ayahnya merupakan tukang kayu yang banyak memunculkan limbah kayu.

“Jam tangan kayu dengan frame bulat dijual dengan harga Rp 700 ribu, dan kotak mencapai Rp 800 ribu. Sedangkan frame kacamata dijual skeitar satu jutaan. Kami menggunakan website, instagram, dan media sosial lainnya untuk memasarkannya,” tegasnya.

Wapres Jusuf Kalla mengatakan, menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), yang akan memenangkan persaingan adalah mereka yang berani kreatif dan inovatif. Termasuk mereka yang menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas. Selain itu, guna memenangkan pasar maka produk yang dihasilkan juga harus memiliki idealisme.

“Kerja keras yang baik dan mempunyai idelaisme akan menambah daya saing,” ucapnya.

Munculnya produk JK Watch ini disambut positif Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo. Pemkab Kulonprogo bahkan akan mendukung penuh pengembangannya, termasuk pemasaran produk tersebut. Prospek pasarnya sendiri cukup bagus, terlebih kini sudah mulai dikenal di pasar. Bahkan saat ada kunjungan calon dubes, jam ini juga dipajang dalam pameran.

“Nama JK Watch sudah cukup tepat. Selain bermakna Joko Widodo dan Jusuf Kalla. JK ini bisa bermakna Jam Kulonprogo,” tandasnya.

Inovasi produk lokal merupakan salah satu bentuk penguatan otonomi daerah. Kulonprogo sendiri dianggap sukses mengembangkan produk lokal dengan menciptakan Batik Geblek Renteng yang berbeda dengan batik khas DIJ serta kerajinan jam kayu. (ila)