GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
PEDAGANG BERAKSI: Pedagang Pasar Ngasem mementaskan drama berbahasa Jawa bertajuk Ayo Blonjo Nang Pasar dalam lomba pentas seni antarpedagang pasar se-Kota Jogja di Plaza Ngasem, Jogja, Rabu (27/4).
JOGJA – Gebyar Pasar Tradisional 2016 kembali digelar di Plaza Ngasem, Rabu (27/4). Gebyar Pasar kali ini digelar dengan menampilkan berbagai pentas seni. Pelaku seninya pun bukan seniman profesional. Mereka adalah pedagang pasar di 32 pasar tradisional di Kota Jogja.

Kepala Bidang Pengembangan Pasar Dinas Pengelolaan Pasar (Dinlopas) Kota Jogja Rudi Firdaus menjelaskan, ke depan pasar tradisional bukan hanya menjadi daya tarik belanja. Tapi, pasar juga akan mereka kembangkan sebagai panggung kesenian.

“Tujuannya agar masyarakat berbondong-bondong belanja ke pasar tradisional,” jelas Rudi di sela gebyar pasar kemarin.

Rudi menjelaskan, gebyar pasar dengan menampilkan pentas kesenian dari pedagang ini merupakan yang pertama kali. Kendati demikian, penampilan pedagang yang biasanya berinteraksi dengan pembeli, juga memiliki potensi dalam pertunjukan seni.

“Harus diakui, mereka memang bukan pelaku seni sebenarnya. Tapi, dengan melihat potensi saat ini, kami yakin ke depan bisa lebih maksimal,” jelasnya.

Saat pagelaran seni yang pertama kali ini, salah satu kesenian yang dibawakan adalah seni tari. Juga, ada drama kolosal Jawa yang menceritakan ajakan untuk berbelanja ke pasar tradisional daripada ke toko modern berjejaring.

Kepala Dinlopas Kota Jogja Maryustion Tonang mengatakan, pengembangan pasar menjadi daya tarik wisata merupakan tekad dari Pemkot Jogja untuk melindungi ekonomi kerakyatan. Apalagi di pasar pelaku ekonominya mencakup banyak orang. Artinya, pengembangan ekonominya berpeluang bisa menyejahterakan masyarakat.

“Harapannya, dengan geliat pasar tradisional ramai, berdesak-desakan, ekonomi masyarakat kecil tumbuh,” terang mantan Camat Tegalrejo.

Tion, sapaan karibnya, mengungkapkan, upaya menarik pembeli berbelanja ke pasar tradisional dilakukan dengan banyak cara. Mulai dari pembangunan pasar-pasar tradisional yang biasanya kumuh, kini lebih bersih. Diskon berhadiah bagi pembeli di pasar tradisional. Sampai menciptakan branding baru di pasar tradisional.

“Di Beringharjo sudah ada sebuah tempat untuk selfie. Nanti, di semua pasar akan kami siapkan tempat yang sama. Jadi ke pasar bukan sekadar berbelanja. Masyarakat juga bisa menikmati suasana pasar yang nyaman, aman, dan bersih,” jelas Tion. (eri/ila)