MARAKNYA pemberitaan mengenai kasus penembakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, mengundang keprihatinan banyak pihak. Tidak hanya oleh masyarakat umum, tapi juga dirasakan penjual airsoftgun dan airgun di Jogja. Mereka ikut was-was dan berhati-hati dalam menjual replika senjata itu.

“Prihatin ya banyak disalahgunakan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Ini memang bukan kasus pertama kalinya. Sudah kesekian kalinya, apalagi dilakukan oleh pelajar,” kata AS, 29, salah seorang penjual airgun dan airsoftgun di Kota Jogja kepada Radar Jogja, kemarin (2/5).

Oleh karena itu, dia mengharapkan kepada sesama penjual sebaiknya tidak memperhatikan keuntungan semata. Tapi lebih kepada tanggung jawab sosial, yaitu memilah pembeli.

Di sisi lain, dia mengatakan, masyarakat perlu tahu dan bisa membedakan antara unit airsoftgun dan airgun. Menurutnya, selama ini media dan pihak kepolisian sering menyatakan bahwa senjata yang digunakan itu airsoftgun. Padahal, menurutnya, itu dua jenis unit itu berbeda.

Jika kepolisian tidak bisa menemukan barang bukti berupa ball bearing (BB), maka seharusnya jangan langsung menyatakan bahwa itu mengunakan airsoftgun hanya dari bentuk kerusakan. “Karena airsoftgun dan airgun sama-sama menggunakan gotri, namun ada juga yang menggunakan BB plastik,” jelasnya.

Dia menjelaskan, membedakan antara airsoftgun dan airgun adalah dari jenis BB-nya. Jika berukuran 6mm, maka itu merupakan BB airsoftgun. Tapi jika berukuran 4,5mm maka itu merupakan BB dari airgun.

“Beberapa kasus meski barang bukti gotri berukuran 4,5mm ditemukan, petugas dan media tetap menyebut itu unit airsoftgun, jelas ini sangat merugikan kami penjual dan penghobi permainan militer,” ungkapnya.

Dia mengatakan, komunitas permainan militer saat ini keberadaannya sudah diketahui oleh dua institusi keamanan masyarakat dan negara yaitu Polri dan TNI. “Kalau mendapatkannya, biasaya dibeli secara online, kalau yang sudah kenal baik dengan pedagangnya bisa di rumah penjualnya,” ujarnya.

Di Jogja, sudah banyak yang menjual replika senjata baik airgun dan airsoftgun. Penjual lain, AD mengatakan, untuk sebuah hobi, permainan tersebut memang tergolong mahal. Harga sepucuknya di kisaran antara Rp 2 juta hingga Rp 5 jutaan.

“Tergantung penjualnya, ada juga yang sampai Rp 7 jutaan,” katanya yang sudah empat tahun memperjualbelikan senjata replika itu.

Jenisnya juga bermacam-macam, dari yang model revolver sampai jenis FN. Mengenai pembelinya, dia menuturkan, kebanyakan memang orang kantoran baik pegawai, maupun anggota TNI dan Polri. Dengan harga yang cukup mahal, kemungkinan jika pembeli dari kalangan pelajar itu mereka membeli patungan. “Itu pun barang yang dibeli biasanya second,” ujarnya.

Menurut AD, pembelinya biasanya memang untuk olahraga menembak. Untuk yang airsoftgun untuk perang-perangan, sedangkan jenis airgun biasanya digunakan untuk menembak hewan pengerat atau latihan di halaman belakang rumah.

Mengenai perizinan dan sosialisasi penggunaannya, dia mengaku pernah mendengar. Tapi untuk lapak dagangan belum pernah.

“Untuk jenis airsoftgun, para airsofter dengan paguyubannya sering melakukan sosialisasi dengan ikut dalam pawai jika ada acara. Mereka berpakaian lengkap dengan unit sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Harian Persatuan Olahraga Airsoft Seluruh Indonesia (Porgasi) DIJ Aditya Rochim mengatakan, aksi teror yang terjadi baik di Bantul, Jogjakarta dan Magelang, Jawa Tengah, wajib ditelusuri. Sebab, info yang beredar pelaku menggunakan senjata replika jenis airsoftgun.

Dia menjelaskan, ada beberapa kemungkinan jika benar unit airsoftgun yang digunakan. Pertama, adalah jarak tembak yang sangat dekat. Kedua, kemungkinan unit airsoft tersebut telah mengalami modifikasi.

“Kalau airgun pasti tembus, tapi ini kabarnya pakai airsoftgun. Tapi, setelah mengetahui bahwa proyektil yang digunakan adalah metal itu positif airgun,” kata pria yang akrab disapa Boim ini.

Dia mencontohkan, jika memang menggunakan airsoftgun maka ball bearing (BB) yang terkena tubuh mudah untuk dikeluarkan. Beda halnya jika menggunakan airgun, bisa saja dilakukan operasi untuk mengangkat proyektil.

Porgasi sendiri memberi batasan bagi anggotanya untuk menggunakan airsoftgun. Batasan kecepatan proyektil hanya maksimal 400 hingga 450 feet per second (fps). Melihat luka yang ditimbulkan bisa saja fps melebihi batas yang ditentukan.

“Bisa pakai airsoftgun kalau BB metal ukurannya 6mm, tapi dipastikan dengan berat BB metal tidak akan melesat dengan cepat, bisa tapi kansnya kecil. Kecuali sudah di-upgrade kecepatan fps-nya,” jelasnya.

Boim menjelaskan, kepemilikan airgun tidak sebebas airsoftgun. Mulai dari kepengurusan hak kepemilikan hingga pelatihan menembak. Tentang peraturan, baik airsoftgun dan airgun sama. Karena diatur dalam undang-undang yang sama. Syarat wajib adalah menggunakan orange tip di ujung laras senjata. Tujuannya membedakan antara senjata replika dan senjata asli.

Untuk keseharian, kedua senjata ini harus disimpan dengan aman. Bahkan untuk membawa ke tempat umum ada peraturan yang wajib diikuti. Pertama magazine harus terlepas dari senjata. Lalu tenaga penggerak harus terlepas dan senjata bukan dalam posisi standby. (riz/dwi/ila)