GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BACA BUKU: Sejumlah anak didampingi orang tua membaca buku di RTH Taman Inspirasi Code di tKampung Karanganyar, Brontokusuman, Mergangsan, Jogja, Senin (2/5). RTH tersebut dilengkapi dengan gazebo berisi berbagai macam buku bacaan yang dapat dinikmati warga sekitar.
JOGJA – Permukiman penduduk di sekitar Kali Code telah penuh sesak. Ini terlihat dari jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di sungai tersebut. Sampai saat ini, baru ada satu RTH. Itu pun menggunakan lahan yang hanya dipinjampakaikan selama lima tahun.

Lokasinya juga berada di Jogja Selatan. Tepatnya di RW 18, Karanganyar, Brontokusuman, Mergangsan. Yang masih ada lahan luas. “Lahan ini sebelumnya kumuh. Tidak terurus sama sekali,” tandas Ketua Pamerti Code Totok Pratopo di sela peresmian RTH Taman Inspirasi Code, kemarin (2/5).

Totok mengungkapkan, sebenarnya ada dua RTH. Tapi, satu RTH di Jetisharjo belum tergarap dengan baik. Berbeda dengan di Brontokusuman ini. Lengkap dengan taman bermain, pohon peneduh, dan gubuk perpustakaan untuk membaca.

“Tapi, Taman Inspirasi Code ini masih menjadi persoalan. Karena baru dipinjampakaikan selama lima tahun. Kami harapkan, pemkot dan pemprov bersedia membelinya,” jelasnya.

Lahan untuk RTH ini memiliki luas 1.400 meter persegi. Dengan luas itu, Pamerti Code berharap bisa dikembangkan untuk program Mundur, Munggah, Madep Kali (M3K). Pemerintah bisa membelinya dan menjadikannya tempat interaksi warga.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Miniral (PUP-ESDM) DIJ Rani Sjamsinarsi menjelaskan, untuk pembebasan lahan, ada aturan khusus dari pusat. Lahan yang bisa dibeli pemerintah untuk RTH di pinggir kali harus memiliki luas 3.500 meter persegi.

“Karena selain untuk RTH, juga harus ada rumah susunnya. Kedua-duanya harus ada berdampingan,” tandas Rani.

Sumber pendanaan lain, seperti APBD DIJ dan Dana Keistimewaan, kata Rani, harus melalui kajian. Selain memanfaatkan APBD DIJ dan Danais, sebenarnya Pemkot Jogja juga terus menambah RTH. Setiap tahun, pemkot selalu menambah anggaran agar bisa terpenuhi kuota minimal RTH Publik 20 persen dari luas wilayah. Saat, RTH publik di Kota Jogja ini baru terpenuhi 17,9 persen.

Kepala Bagian Tata Pemerintahan Sekretariat Kota Jogja Zenni Lingga mengatakan, tahun ini akan menambah dua unit Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik di wilayah permukiman. Kedua RTH itu bukan termasuk Brontokusuman. “Kedua lokasi ada di Surokarsan, Wirogunan dan Mrican, Giwangan,” terangnya.

Zenni menambahkan, proses pengadaan lahan untuk RTH publik harus diawali permohonan dari wilayah. Terutama pengajuan proposal oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK). Sedangkan untuk penentuan harga, pemerintah harus mengacu pada hasil appraisal. Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja Suyana mengatakan, tahun ini akan membangun fasilitas di enam RTH publik tersebut. Masing-masing di Kadipaten Kraton, Notoprajan Ngampilan, Sosromenduran Gedongtengen, Keparakan Mergangsan, Gunungketur Pakualaman, dan Prenggan Kotagede. (eri/ila)