JOGJA – DIJ membuat sejarah baru dengan meloloskan jumlah atlet ter-banyak sepanjang keikutsertaan di ajang PON yakni mencapai 345 atlet. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, proses entry by name atlet masih saja menga-lami kendala administratif. Menurut Anggota Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) KONI DIJ Andi Hirawan, jad-wal entry by name tahap pertama sudah dilakukan pada 15 April lalu. Dari 15 cabang olahraga (cabor) yang sudah didaftarkan, ada dua cabor yang menda-pat report balasan, yakni tenis meja dan terbang layang. “Kalau tenis meja dikembalikan ka-rena Pengda PTMSI memutuskan un-tuk batal mengirim atletnya. Sedang-kan yang satu lagi terbang layang, karena ada satu atletnya yang belum melengkapi berkas administrasi,” katanya, kemarin. Dijelaskan, untuk cabor lainnya hingga kemarin tidak ada masalah, Artinya, ber-kas entry by name sudah lengkap secara sistem atau jaringan online. Karena tidak ada laporan ataupun penolakan dan pengembalian berkas. Sebenarnya entry by name dijadwalkan oleh PB PON hingga 6 Juni 2016 menda-tang. Tetapi PB PON membaginya dalam tiga tahap. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi agar 34 propinsi yang ikut ambil bagian dalam PON, tidak menumpuk di akhir jadwal pendaftaran. “DIJ masuk dalam tiga tahap tersebut. Karena proses entry by name tiap cabor-berbeda-beda tahapannya. Itu harus kami antisipasi lagi agar semua cabor bisa membereskan semua berkas admi-nistrasi, agar saat memasukan ke panitia pusat bisa sesuai jadwal,” tuturnya Entry by name tahap kedua yang dijad-walkan selesai pada 29 April lalu. Yakni cabor drum band, selam, tarung drajat, polo air, berkuda, gulat, judo, panahan, dan wushu. Sedangkan cabor yang akan didaftarkan di tahap ketiga pada 10 Mei mendatang antara lain, voli indoor, voli pasir, anggar, bulutangkis, sepak takraw, dayung, karate, menembak, baseball, softball, balap sepeda, gulat, taekwondo, atletik, dansa, kempo, tinju, hoki outdoor maupun indoor.Diakui, kendala administrasi rata-rata berkutat pada permasalahan seperti KTP, KK, dan ijazah. Meski tidak banyak, namun ada beberapa atlet yang masih mereme-hkan hal tersebut. Padahal ini ber hubungan dengan kepastian si atlet bisa mengikuti PON 2016 atau tidak setelah lolos kualifikasi. “Kalau satu saja data tidak ada, secara sistem akan langsung menolak. Mungkin ini terlibat sepele, tapi kalau memang tidak ada datanya, kami mau tidak mau mengejar si atlet atau pelatih untuk melengkapi,” tegasnya. Dia berharap, agar atlet, pelatih dan pengda cabor bisa berkoordinasi dengan baik. Agar entry by name bisa selesai te-pat waktu. “Yang sudah didaftarkan statusnya juga belum bisa langsung terakreditasi. Biasanya status akreditasi didapat kalau sudah melakukan pembayaran kontri-busi Rp 300 ribu per hari per atlet. Jad-walnya pembayaran setelah dua hari setelah akhir jadwal entry by name bulan Juni besok,” tandasnya. (dya/dem/ga)