JOGJA – Bakal calon wali kota Jogja pada Pemilihan Wali Kota (Pilwali) 2017 dari petahana Haryadi Suyuti (HS) menjadi idola di kalangan kandidat calon wakil wali kota. Setelah nama Syauqi Suratno yang disebut akan mendampingi HS melalui Partai Gerindra, muncul satu nama lagi. Dia adalah Haryawan Emir Nuswantoro.

Emir, sapaannya, selama ini dikenal sebagai tokoh muda, karena pernah menjabat sebagai ketua Karang Taruna Kota Jogja. Pengusaha percetakan itu telah mengambil formulir di Kantor DPC Partai Gerindra Kota Jogja, kemarin (3/5).

Emir mengakui, dia lebih tertarik untuk menjadi pendamping HS di pilwali. Terlebih, selama menjadi ketua Karang Taruna, dia kerap berhubungan langsung dengan HS. “Bisa bagi tugas. Saya yang akan blusukan ke masyarakat untuk mendorong pembangunan,” kata Emir, dikonfirmasi, kemarin.

Jika berpasangan dengan HS, lanjut Emir, juga klop. Sebab, sosoknya lebih dikenal di kalangan anak muda. Karena, selain pernah memimpin Karang Taruna, dia juga mendapatkan dukungan dari anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Jogja tempatnya bernaung.

“Rekan-rekan dari pengusaha muda yang mendesak saya untuk ikut dalam bursa. Atas dorongan itu, saya siap mengikuti setiap tahapan, termasuk mengembalikan berkas. Makanya, mereka bersedia mengambilkan formulir ke DPC Partai Gerindra,” jelasnya.

Ketua DPC Partai Gerindra Kota Jogja Anton Prabu Semendawai menegaskan, partainya sampai saat ini belum memastikan bakal mengusung HS atau memasangkan calon petahana ini. Saat ini, partai binaan Prabowo Subianto itu masih menjalankan mekanisme partai.

“Ini baru tahap penjaringan. Dari calon yang mengambil formulir, baru akan dilakukan mekanisme seperti penyaringan atau uji kelayakan dan kepatutan. Sebelum memutuskan siapa yang akan diusung,” tandasnya.

Partai lain yang juga sudah menjalankan mekanisme partai adalah PDIP. Partai pemenang di Pileg dan Pilpres 2014 silam itu menambah jumlah kandidat yang mengikuti seleksi di DPP. Kini, menjadi enam orang, mereka adalah Imam Priyono, Arif Noor Hartanto, Heroe Poerwadi, Chang Wendriyanto, Danang Rudyatmoko, dan terbaru Syauqi Suratno.

Ketua DPC PDIP Kota Danang Rudiatmoko menjelaskan, DPC belum mengetahui ada tambahan atau tidak sosok yang akan diundang untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan. “Itu langsung DPP yang melihat adanya kandidat yang muncul,” jelas Danang.

Pimpinan tingkat kota, lanjut Danang, saat ini masih menunggu rekomendasi dari DPP. Sebab, setelah menggelar Rapat Kerja Cabang Khusus (Rakercabsus) beberapa waktu lalu dengan munculnya nama Imam Priyono, proses di pihaknya telah selesai. “Mekanisme sekarang di tingkat pusat,” katanya.

Untuk Pilwali Kota Jogja, kata Danang, rekomendasi akan lebih cepat. Dari informasi awal yang mereka terima dari Kantor DPP di Jalan Diponegoro, Jakarta, rekomendasi akan segera turun dalam satu bulan ke depan. “Biasanya sebulan sebelum proses pendaftaran,” jelasnya.

Dia menegaskan, keputusan siapa yang bakal menggenggam tiket dari partai berlambang banteng gemuk itu belum pasti. DPP mengisyaratkan ada dua konsep. Pertama, surat tugas yang hanya diberikan kepada calon wali kota. Jika konsep pertama ini, nama yang mendapatkan surat tugas berhak mencari pendamping sendiri.

“Bisa juga rekomendasi. Kalau yang turun ini, berarti DPP sudah memberikan nama satu paket. Calon wali kota dan calon wakil wali kota,” kata Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Jogja ini.

Yang jelas, DPP PDIP akan berpedoman pada sisi objektif. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri akan memberikan rekomendasi atau surat tugas berdasarkan elektabilitas dari hasil survei independen. (eri/ila)