SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
DEMI ANAK: Nurcahaya Ningsih saat datang ke Terminal Giwangan untuk melihat sendiri motor milik anaknya yang ditemukan di sana. Foto kanan, Nurcahaya Ningsih tak mampu menahan tangis.

Langsung Terbang ke Jogja, Telusuri hingga Terminal Giwangan

Kabar penemuan jenazah di kamar mandi lantai 5 Gedung S2 dan S3 FMIPA UGM, Senin petang (2/5) menggemparkan warga di Jogjakarta. Korban adalah Feby Kurnia Nuraisyah Siregar,19. Mahasiswi semester dua Geofisika UGM asal Kepulauan Riau. Duka pun menyelimuti keluarganya. Sang ibu, Nurcahaya Ningsih, langsung terbang ke Jogja untuk menelusuri jejak sang anak.

RIZAL SETYO NUGROHO, Sleman
RAUT MUKA penuh kesedihan terpancar di wajah Nurcahaya Ningsih, 48. Kendati begitu, dia berusaha tegar mendapati kenyataan sang buah hati telah meninggal dunia. Dia mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan putrinya pada Jumat (29/4). Sebelumnya, sejak pagi sang anak tidak bisa dihubungi. Pesan singkat di aplikasi Line juga tidak dibalas.

“Saya sudah mulai curiga, Jumat mau telepon, saya biasa SMS dulu. Ini nggak diangkat malah balas SMS yang mencurigakan,” ujarnya kepada wartawan di ruang jenazah RSUP dr Sardjito, Selasa (3/5).

Menurutnya, balasan pesan singkat yang dikirim dari nomor Feby bukan ditulis oleh sang anak. Sebab dari cara penyebutan kata ganti dan bahasa SMS-nya bukan ciri khas Feby. “Kalau dari SMS bahasanya lain. Saya mulai curiga. Terus saya ambil tiket, Sabtu (30/1) pagi ke Jogja,” ungkapnya.

Sesampainya di Jogja, Nurcahaya langsung menuju kos anaknya di Pogung Baru, Mlati, Sleman. Di tempat itu, dia sudah memeriksa catatan dan barang-barang di kos sang anak. “Tidak ada yang mencurigakan, saya juga tidak nyangka tragis gini,” ungkapnya.

Ningsih, sapaannya mengatakan, saat korban mulai hilang kontak, teman-teman mahasiswa langsung melakukan pencarian. Kemudian, Jumat (29/5) siang, teman-teman korban melaporkan hilangnya korban ke Polsek Mlati.

“Sabtu malam, sepeda motor ditemukan di parkir terminal Giwangan, motornya Mio J. Kata tukang parkirnya sudah dua hari. Masuk Jumat pagi sekitar pukul 09.00-10.00. Dari penuturan petugas parkir, motor itu dibawa oleh laki-laki,” ungkapnya.

Untuk memastikan, Nurcahaya bahkan mengecek sendiri sepeda motor tersebut ke terminal Giwangan. “Kata tukang parkirnya pria itu tidak terlalu tua. Posturnya lebih tinggi dari tukang parkir. Helm ndak ada, masuk ndak pakai helm,” katanya menirukan petugas parkir.

Sedangkan sinyal ponsel korban terpantau di daerah Sewon, Bantul. Diketahui saat teman korban menghubungi korban, nomor tersebut diangkat oleh seseorang dengan suara laki-laki. “Kalau buku rekening sudah dicek, tidak ada yang berkurang. Terakhir kali diambil tanggal 12 April,” ujarnya.

Ningsih mengatakan, putrinya itu anak yang penurut dan tekun beribadah. Setiap sepekan sekali keduanya menjalin hubungan melalui sambungan telepon. Biasanya itu dilakukan di akhir pekan. Sedangkan sehari-hari hanya lewat pesan singkat SMS atau aplikasi Line.

Menurut Ningsih, putrinya merasa betah di Jogja. Menurut Feby kala itu, kondisinya cukup nyaman dan tidak ada permasalahan berarti. Hal itulah yang membuatnya sangat terpukul dengan kepergian putrinya tersebut. “Saya tidak menyangka kalau Feby seperti ini,” ujarnya pelan.

Kakak sepupu Feby, Diyanti Isnani Siregar mengaku terpukul dengan kejadian ini. Sebab, baru sepekan dia pindah kos di Karanggayam, Jogja. Sebelumnya, dia tinggal satu kos dengan Feby Kurnia di Pogung Baru, Mlati, Sleman.

Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Lingkungan Fakultas Geografi UGM ini mengatakan, jika adiknya merupakan pribadi yang ceria ramah, pintar, dan berprestasi. Dia juga pandai bergaul dan baik dengan teman-temannya.

Meskipun aktif di beberapa organisasi, nilai akademiknya cukup bagus. Feby, lanjutnya, pernah juara Olimpiade Sains Nasional. Pernah juga mewakili Indonesia di kegiatan sekolahnya di Beijing. Selain itu, Feby juga aktif di Himpunan Mahasiswa Geofisika UGM dan Seksi Mahasiswa Ahli Geologi Indonesia (SM-IAGI). “Pokoknya dia itu anak yang cerdas di akademik,” ungkapnya.

Ketika masih sama-sama satu kos, adik sepupunya itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar. Selain itu kadang menonton TV atau mendengarkan lagu. Menurutnya, anak pertama dari tiga bersaudara itu juga jarang bercerita soal permasalahan pribadinya. Termasuk kedekatannya dengan teman lawan jenisnya. “Dia tidak punya pacar, setahu saya juga tidak dekat dengan teman pria,” katanya. (ila)