Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
TRADISI NGAPEM: GKR Hemas (dua dari kanan) beserta lima puterinya (kebaya biru) saat membuat kue apem dalam rangkaian Tingalan Dalem Jumenengan Sultan HB Ka 10 di Bangsal Sekar Kedaton, Keraton Jogja, kemarin (6/5).
JOGJA – Permaisuri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, GKR Hemas, bersama lima puterinya membuat kue apem dalam tradisi Ngapem di Keraton Jogja, kemarin (6/5). Acara ini dilangsungkan di Bangsal Sekar Kedaton.

Tradisi Ngapem yang menjadi simbol permohonan ampun serta keselamatan kepada Tuhan itu merupakan bagian dari perayaan 27 tahun peringatan Tingalan Dalem Jumenengan atau bertakhtanya Sultan HB Ka 10 sebagai Raja Keraton Jogja.

Semua kegiatan dalam tradisi apeman ini dilakukan oleh perempuan. Selain GKR Hemas dan semua puteri dalem, juga dibantu para sentana dalem puteri dan para abdi dalem puteri. Terdapat dua jenis isi apem yang dibuat, yaitu apem mustaka dan apem alit.

Ribuan kue apem itu nantinya akan dibagikan kepada masyarakat umum pada acara labuhan yang akan berlangsung di tiga lokasi, yakni Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi dan Gunung Lawu.

Sebagai bagian dari Tingalan Jumenengan Sultan HB Ka 10 serta ulang tahun ke-70, sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Seperti dengan upacara Ngebluk pada Kamis (5/5). Puncak acara akan dipentaskan Bedhaya Tirta Hayuningrat, yang merupakan ciptaan HB Ka 10 pada malam ini (7/5).

Menurut Penghageng Tepas Tanda Yekti Keraton Jogja GKR Hayu, tarian Bedhaya Tirta Hadiningrat itu akan dibawakan sembilan penari. Empat di antaranya merupakan puteri dalem, yaitu GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, serta GKR Bendara. “Tarian berlangsung sekitar 45 menit,” terang puteri ke-4 Sultan HB Ka 10 itu. (pra/laz)