BANTUL- Lama tak terdengar gaungnya, kawasan wisata edukasi Grojogan Lepo mulai bergeliat lagi. Agar tak terbengkalai terlalu lama, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Saka Nirwana menyulap destinasi wisata alam yang sempat moncer beberapa waktu lalu itu. Mengandalkan keindahan alam perbukitannya, Saka Nirwana menawarkan beragam kegiatan penunjang bagi para wisatawan. Paket outbound dan sarana perkemahan, diantaranya.

“Kami kelola secara swadaya,” ujar Ketua Pokdarwis Saka Nirwana Samirin kemarin (6/5). Pembenahan destinasi wisata yang terletak di perbatasan Padukuhan Pokoh 1 dan Pokoh 2, Kelurahan Dlingo itu melibatkan warga dua wilayah tersebut.Mereka sepakat membenahi kawasan Grojokan Lepo. Agar lebih berdaya guna, sehingga bisa menjadi magnet wisatawan. Ujung-ujungnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Samirin mengatakan, Grojogan Lepo pernah digarap oleh kelurahan pada pertengahan 2013.

Salah satunya berupa akses jalan setapak nan terjal, khas perbukitan. Meski terkesan ala kadarnya, akses jalan itu cukup mampu menggoda wisatawan untuk mendatangi Grojogan Lepo. “Lumayanlah. Ada wisatawan sekitar Dlingo yang sudi mampir ke sini (Grojogan Lepo),” katanya.

Di tengah perjalanannya, tingkat kunjungan menurun drastis. Makin lama, Grojogan Lepo seolah mati suri. Kondisi inilah yang memantik warga Pokoh I dan Pokoh II tergerak membenahi potensi alam berupa dua air terjun itu. Apalagi, saat ini banyak bermunculan destinasi baru di wilayah Bantul. Pelan tapi pasti, warga dua pedukuhan itu lantas mendirikan pokdarwis dan mengambil alih pengelolaan destinasi Grojogan Lepo.

“Sudah dua bulan terakhir ini kami kerja bakti membenahi Lepo,” lanjut Samirin.

Selain sarana outbound, agar lebih memiliki rangsangan bagi wisatawan, warga juga menyediakan aneka permainan. Seperti flyng fox.

Kini, jerih payah pokdarwis mulai menunjukkan hasil. Tanpa sentuhan tangan pemerintah, tak kurang 650 wisatawan mengunjungi Grojogan Lepo dalam sebulan terakhir. Sebagian besar pelancong berasal dari DIJ dan sekitarnya. “Ada yang outbond. Ada juga yang berkemah,” ucapnya. Tak hanya mencari hasil, pokdarwis juga mengampanyekan gerakan moral dalam pengelolaan Grojogan Lepo.

Dalam pengembangan kawasan, Saka Nirwana mengedepankan konsep ramah lingkungan. Pengunjung dilarang membawa sabun, shampo, hingga minuman instan. Itu bertujuan menghindarkan sampah plastik. Samirin menegaskan, aturan itu juga berlaku bagi para pemilik warung di sekitar kawasan. Pemilik warung kuliner yang notabene warga setempat direkomendasikan menjual jajanan dan wedang khas Dlingo. “Andalan kami wedang kekep,” ujarnya.

Untuk sementara, pengelola Grojogan Lepo tak memungut retribusi bagi para pengunjung. Hanya wisatawan yang ingin mengikui outbound atau berkemah, dikenai tarif tertentu. Biaya jasa outbound cukup variatif. Mulai Rp 25 ribu hingga Rp 150 ribu per orang. Sedangkan untuk berkemah dipatok Rp 30 ribu hingga Rp 250 ribu. (zam/yog)