JOGJA – Nama pasangan kandidat calon wali kota dan wakil wali kota dari dua partai politik yang tengah penjajakan berkoalisi, PDI Perjuangan dan PAN, mulai terbaca. Ini setelah salah seorang kandidat kuat, Arif Noor Hartanto (Inung) memastikan hanya bersedia bertarung untuk menjadi orang nomor satu atau wali kota.

Wakil Ketua DPRD DIJ ini menegaskan, ia menolak jika hanya dipasang menjadi orang kedua atau calon wakil wali kota. Peluang pun muncul, jika kedua parpol terbesar di Kota Jogja itu benar-benar bakal berkoalisi.

Opsi pertama Inung akan berduet dengan Danang Rudyatmoko, Ketua DPC PDIP Kota Jogja. Sedangkan jika calon wali kota dari PDIP, nama Imam Priyono tak bisa dikesampingan. Nama IP yang didukung 13 pengurus anak cabang (PAC), akan berduet dengan Ketua DPD PAN Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP).

Ketua DPC PDIP Kota Jogja Danang Rudyatmoko mengakui, keputusan rekomendasi tetap menjadi wewenang DPP. Itu akan berdasarkan sisi obyektif yaitu hasil survei yang telah dilakukan dan fit and proper test.

“Semua kemungkinan masih bisa. Yang jelas, apa pun keputusan dari DPP, kami akan patuh dan ikuti,” kata Danang kemarin (6/5)
Ia menjeaskan, fit and proper test merupakan salah satu mekanisme. Itu akan menjadi pertimbangan partainya dalam menentukan keputusan untuk menghadapi Pilwali 2017. “Ada banyak kemungkinan. Yang jelas, kalau itu (Inung-Danang) saya siap menjalankan tugas partai,” tambahnya.

Soal peluang berkoalisi dengan PDIP, Inung optimistis bisa diusung PDIP. Asalkan, partai berlambang banteng gemuk itu benar-benar objektif dalam menentukan calon yang bakal diusung.

“Harapan saya, formula yang ditentukan parpol untuk menjawab harapan publik. Saya yakin parpol tidak akan mengingkari harapan publik,” ujar mantan Ketua DPRD Kota Jogja ini.

Inung pun tak akan mempermasalahkan dengan siapa dirinya akan berpasangan. Yang jelas, kursi wali kota menjadi harga mati. “Kalau tidak memegang jabatan kepala daerah, akan sulit mewujudkan idealisme, mewujudkan keinginan masyarakat,” ujarnya.

Ia menolak, jika hal tersebut dikatakan ambisius. Itu karena harapan masyarakat Kota Jogja yang sudah melek politik. “Ketika seseorang memegang jabatan wali kota, maka peluang untuk mewujudkan harapan masyarakat lebih terbuka,” terangnya.

Ketua DPD PAN Kota Jogja Heroe Poerwadi menegaskan, pilwali ini bukan kontes atau perlombaan. Pemenangnya pun hanya satu, meski PAN kaya kader berkualitas dan potensial untuk memenangkan.

“Tapi ada banyak pertimbangan. Salah satunya PAN tidak bisa mengusung sendiri. Artinya PAN harus berkoalisi. Pertimbannya pun kemenangan, bukan semata-mata kader terbaik,” jelas Heroe.

Heroe menambahkan, kini pihaknya tengah berkomunikasi dengan parpol lain. Termasuk PDIP yang sudah memanggil dirinya dan Inung untuk fit and proper test. “Insya Allah akan menjadi baik di pilkada nanti. Di penjajakan awal, kita saling memahami terlebih dulu,” sambungnya.

Ketua DPD PAN DIJ Nazarudin menjelaskan, tak mempermasalahkan kadernya mengikuti proses penjaringan di partai lain. Sebab, hal itu merupakan penghargaan kepada partai lain. “Prinsipnya, kami saat ini menjalin koalisi terlebih dahulu. Karena PAN tidak cukup kursi untuk maju sendiri,” jelasnya. (eri/laz)