Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

Stres, Putar Berjam-jam Bus Baru Dapat Tempat

Kabar pembunuhan mahasiswa UGM dan tindak kejahatan seperti penembakan dua remaja serta penyayatan di Kota Jogja dalam beberapa waktu terakhir, tak berpengaruh terhadap iklim pariwisata di kota ini. Iklim pariwisata yang menjadi urat nadi perekonomian di Jogja tetap kondusif.

HERI SUSANTO, Jogja
Wisatawan yang mengunjungi Kota Jogja pada hari pertama dan kedua long weekend Kamis (5/5) dan Jumat (6/5) kemarin tetap saja membeludak. Jalan-jalan protokol di kota ini juga dipadati oleh kendaraan-kendaraan dari luar daerah.

Hal ini juga terlihat dari tiga tempat khusus parkir (TKP) di Ngaben, Senopati, dan Abu Bakar Ali yang penuh. Bahkan, parkir di barat Stasiun Tugu juga full. Bus-bus yang mengangkut wisatawan terpaksa harus berputar-putar untuk mendapatkan tempat parkir.

“Tadi harus berputar sampai satu jam. Dari mulai di sini (Senopati), di Malioboro (ABA), dan yang di barat (Ngabean) penuh. Sampai berputar kembali ke sini, pas ada bus keluar,” ujar Suyanto, salah seorang sopir bus saat ditemui di TKP Abu Bakar Ali kemarin.

Sopir bus asal Semarang ini menjelaskan, Malioboro menjadi tujuan rombongan sekolah yang ia bawa. Rencananya berangkat ke Malioboro sore hari, setelah selesai dari Pantai Parangtritis, Bantul. Rencana itu berubah dengan pertimbangan cuaca yang terik. “Penumpang minta siang di Malioboro, baru sorenya ke Pantai Parangtritis,” katanya.

Berdasarkan pantauan, di ketiga tempat itu tertulis parkir penuh. Kendati demikian, satu bus masih bisa masuk untuk parkir. Jika bus itu rombongan, otomatis bus tersebut harus terpisah. Beberapa di Senopati, yang lain mencari lokasi parkir sendiri.

Di TKP ABA dan Ngabean, kondisinya juga sama. Ruang kosong hanya tersisa untuk satu bus. Tidak bisa untuk menampung bus rombongan yang banyak berwisata ke Kota Jogja. Akibatnya, bus-bus itu harus berputar-putar satu jam.

Keterbatasan lahan parkir ini diakui Kepala Kantor Taman Pintar (Tampin) Yunianto Dwisutono. Pengunjung Tampin banyak yang mengeluhkan kesulitan mencari tempat parkir. Mereka biasanya meminta saran tempat parkir yang bisa dilakukan. “Kami jawab kalau tempat parkir paling dekat di Senopati. Itu kalau belum penuh,” jelas Yuni, panggilan karibnya.

Ia mengungkapkan, jika biasanya sudah penuh, pengunjung Tampin yang menggunakan bus besar mereka arahkan untuk droping penumpang. Kemudian, bus yang mencari tempat parkir.

“Banyak yang akhirnya memilih parkir di luar Jogja. Di Ring Road atau terminal. Baru kemudian saat akan pulang kembali ke sini untuk menjemput,” tambahnya.

Ia berharap, masalah parkir pengunjung ring satu atau Malioboro dan sekitarnya bisa segera teratasi. Terlebih, saat ini belumlah menjadi puncak liburan tahun ini. Musim libur puncaknya akan terjadi Lebaran mendatang, karena bersamaan dengan libur sekolah. “Mungkin segera ada solusi. Agar wisatawan tetap nyaman. Masyarakat juga merasakan kenyamanan,” imbuhnya.

Dari catatan Dishub Kota Jogja, daya tampung ketiga TKP itu ditambah dengan beberapa tempat parkir seperti di barat Stasiun Tugu, dan Jalan Veteran milik Gembira Loka Zoo hanya 102 bus, 625 mobil, dan 1.000 sepeda motor.

“Sebenarnya masih banyak yang bisa difungsikan. Ada Musem Perjuangan di selatan, Stadion Mandala Krida, atau tempat lain. Mungkin bisa dijadikan altenatif,” saran Ketua Komisi C DPRD Kota Jogja Cristiana Agustiani.

Ia menjelaskan, pemkot seharusnya memiliki perencanaan matang terkait manajemen pariwisata. Terutama pemenuhan kebutuhan agar wisatawan tetap nyaman. “Parkir ini mendesak kami rasakan. Karena setiap musim liburan masalahnya itu-itu saja. Berulang terus tidak pernah teratasi,” tegasnya.

Padahal, masalah parkir ini bisa diatasi dengan banyak pilihan solusi. Keterbatasan lahan pun bisa teratasi asalkan komunikasi Pemkot Jogja dengan Pemprov DIJ bisa cair. “Pemprov banyak memiliki lahan mangkrak. Itu bisa dimanfaatkan untuk tempat parkir yang memadai,” katanya. (laz)