ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
LABUHAN DALEM: Salah seorang warga menggunakan pakaian adat menyerupai pakaian Ratu Pantai Selatan, pada acara Labuhan Dalem, Minggu (8/5). Foto kanan, Abdi dalem Keraton Jogja bersama tim SAR membawa ubo rampe untuk dilabuh dalam prosesi labuhan di Pantai Parangkusumo, Bantul.
BANTUL – Labuhan Dalem di Pantai Parangkusumo menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat. Itu tampak dari tingginya animo warga mengikuti prosesi yang menjadi salah satu rangkaian peringatan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 ini, Minggu (8/5).

Dengan khidmat, ratusan warga menyaksikan rangkaian prosesi ritual labuhan ini. Mulai prosesi serah terima ubo rampe serta sesaji dari Keraton Jogja kepada perwakilan Pemkab Bantul di Pendopo Kecamatan Kretek. Kemudian dilanjutkan dengan labuhan di Pantai Parangkusumo.

Jumenengan Dalem digelar setiap tanggal 29 Rajab. Kali ini merupakan Jumenengan Dalem ke-27. “Labuhan di Gunung Merapi dan Gunung Lawu dilakukan Senin besok (hari ini),” tutur utusan Keraton Jogja KRT Wijoyo Pamungkas kemarin.

Sri Sultan Hamengku Buwono X naik tahta tanggal 7 Maret 1989 atau dalam penanggalan Jawa pada 29 Rajab 1921. Tahun lalu, pada 30 April 2015, Sultan mengeluarkan Sabdaraja dan mengubah namanya menjadi Sultan Hamengku Bawono ka 10.

“Labuhan Dalem ini dihelat setiap tanggal 30 Rajab. Labuhan ini juga menjadi pembuka ritual labuhan lainnya,” ungkapnya.

Wijoyo menuturkan, ada beberapa ubo rampe yang dilarung. Di antaranya, barang-barang Tinggalan Dalem seperti baju, kain, potongan rambut, dan potongan kuku serta sesaji. Menurutnya, para abdi dalem melakukan ritual di sekitar Batu Karang Hitam di dalam Cepuri Parangkusumo. Setelah itu, ubo rampe dan sesaji dilarung di laut.

Dia menambahkan, ritual labuhan sebagai bentuk penghormatan Raja Keraton Ngayogyokarto kepada para leluhur. “Semoga keraton dan negara selamat dari mara bahaya,” harapnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat ikut ngalap berkah dalam labuhan ini. Caranya, dengan memperebutkan ubo rampe dan sesaji yang dilarung. “Baru kali ini melihat dari dekat ritual labuhan keraton,” ucap Muhaimin, salah satu warga.

Pria asal Piyungan ini tampak berdesak-desakan di antara kerumunan. Setidaknya ada ratusan warga yang menyaksikan labuhan kemarin. (zam/ila)