JOGJA – Sebulan lebih parkir kendaraan roda dua dari sisi timur Malioboro dipindah ke Tempat Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali (ABA) belum juga efektif. Pengguna kendaraan roda dua belum juga memanfaatkan bangunan milik Pemprov DIJ itu. Terutama karyawan toko maupun pedagang kaki lima (PKL) di Malioboro.

Ini terlihat saat long weekend lalu. TKP ABA lantai dua dan tiga yang diperuntukkan bagi sepeda motor tetap mlompong (banyak yang kosong). Bahkan, di lantai tiga malah menjadi tempat berfoto ria anak muda. Dari pengamatan Radar Jogja, memang hanya lantai dua saja yang terlihat penuh.

Keengganan ini memang menjadi keprihatinan juru parkir (jukir) yang direlokasi. Mereka meminta sosialisasi lebih diintensifkan. Mereka juga meminta perbaikan akses masuk yang kemiringannya dinilai cukup tinggi.

“Belum tahu apa penyebab karyawan dan PKL tidak mau parkir di sini. Apakah aksesnya yang tinggi dan miring atau jalan terlalu jauh,” keluh Bambang, salah seorang jukir ditemui akhir pekan kemarin.

Dia menuturkan, memang beberapa pengguna sepeda motor yang meminta tolong motornya dinaikkan ke lantai atas. Biasanya ibu-ibu yang ketakutan untuk menaiki jalan menuju ke lantai dua dan tiga. Tapi, jumlahnya memang tidak banyak. “Biasanya ibu-ibu yang minta petugas untuk menaikkan motornya ke lantai dua atau tiga,” tandasnya.

Dari pengamatannya, karyawan dan PKL memang mayoritas tak ikut pindah memarkir sepeda motornya. Dia tahu itu, sebab banyak yang dulu menjadi langganannya saat masih bertugas di sisi timur Malioboro. Sedangkan kini, mereka tak kembali menjadi langganan.

Petugas TKP ABA lain Hasyim Sumarah menjelaskan, libur panjang tak berbanding lurus dengan kendaraan yang parkir. Sulit untuk bisa terisi penuh. Apalagi, lantai tiga hanya bisa terisi saat malam hari. “Sangat sedikit, tidak sampai 50 persen,” jelasnya.

Kondisi tersebut, otomatis berpengaruh pada pendapatan petugas parkir. Pendapatan mereka turun dibandingkan saat mengelola sisi timur Malioboro. Bahkan, saking sepinya, petugas parkir di TKP ABA banyak yang memilih alih pekerjaan. Meski, saat ini baru dua orang yang memilih berganti menjadi tukang batu. “Ya mau gimana lagi? Jadi tukang batu lebih pasti,” terang Hasyim.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Syarif Teguh memastikan, sosialisasi dilakukan secara terus menerus. Bahkan, untuk mengakomodasi pengunjung maupun karyawan, ada rencana untuk memberikan angkutan. Meski, rencana itu masih digodok oleh Pemkot Jogja.

“Kami masih terus ajak mereka untuk mencoba tertib. Makanya, penertiban parkri roda dua terus kami koordinasikan dengan dinas perhubungan,” katanya.

Selain itu, lanjut Syarif, tak mudah membiasakan masyarakat untuk parkir di TKP ABA. “Ini kan masih proses sosialisasi. Masih butuh waktu,” ujarnya.

Kunjungan Meningkat di Sejumlah Objek Wisata

Sementara itu, saat long weekend kemarin sejumlah objek wisata di DIJ dibanjiri pengunjung. Itu terlihat di Candi Prambanan, Sleman. Saat hari ketiga liburan panjang kemarin, pengunjung di Candi Hindu terbesar di Indonesia ini mengalami peningkatan cukup signifikan mencapai 40.000 pengunjung.

Kepala Divisi Administrasi Unit PT Taman Wisata Candi Prambanan Wiharjanto mengatakan, selain candi utama Prambanan para pengunjung juga bisa menyinggahi Candi Lumbung, Bubrah, dan Candi Seribu. Untuk menarik wisatawan pihak pengelola juga menyediakan wahana hiburan bagi anak-anak termasuk kendaraan ramah lingkungan yang mengelilingi candi. “Targetnya 60.000 pengunjung terlampau, puncaknya hari ini (kemarin),” ujarnya.

Di lokasi lain, Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTHY) juga ramai kunjungan. Keberadaan pasar satwa dan tanaman hias ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi warga DIJ sendiri.

“Lumayan seperti berada di kebun binatang mini. Daripada jalan-jalan pusat kota Jogja, pasti macet. Jadi kami jalan-jalan ke sini saja,” ujar kakak beradik Ibrahim Rahman dan Bima Nova A yang sengaja datang ke PASTHY untuk mengisi waktu selama liburan panjang akhir pekan kemarin. (eri/sky/mg5/ila)