Tewasnya 24 orang akibat minuman keras (miras) oplosan di Sleman, Bantul, dan Kota Jogja, 7 Februari lalu, belum membuat para “peminum” kapok. Ini terbukti dengan kembali jatuhnya korban jiwa tidak sedikit dalam tiga hari terakhir usai menenggak miras. Hingga kemarin (15/5), delapan warga Bantul dan dua warga Kota Jogja dilaporkan meregang nyawa.

KASAT Reskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo menduga ke-8 orang ini menenggak miras oplosan di beberapa lokasi ber-beda dan berkelompok. Itu merujuk sejumlah faktor, seperti ber variasinya alamat seluruh korban. Di antara lokasi itu adalah di rumah Feriyanto, 40, di Kranginan, Bangun-tapan, Bantul, kemudian di rumah Slamet Winangsih alias Mamik di Dusun Ngoto, Bangunharjo, Sewon. Lalu di rumah Purwanto yang ter-letak di Saman, Bangunharjo, Sewon.

Meski demikian, kepolisian belum me ngetahui persis kapan mereka menenggak miras oplosan.

“Jumat (13/5) sudah ada yang meninggal. Kemudian Sabtu dan terakhir Minggu dini hari,” jelas Anggaito

Dari penelusuran polisi, dua dari tiga pemilik rumah yang menjadi tempat menenggak miras itu ternyata penjual miras oplosan. Yakni Feriyanto dan Slamet Winangsih. Di rumah Feriyanto, polisi menyita 81 miras oplosan dalam kemasan botol air minuman. Adapun di rumah Slamet Winangsih, tak ada satu pun barang bukti.

“Feriyanto sudah kami tetapkan sebagai tersang-ka. Satunya masih terperiksa,” ujar Anggaito.

Kendati demikian, dua orang ini sama-sama mengakui bahwa miras oplosan yang mereka jual diperoleh dari Robert alias Udik. Pria asal Solo yang tinggal di Kasongan, Kasihan, ini diduga sebagai produsen miras oplosan.

“Dini hari kami ke sana (Ka-songan), tapi rumahnya kosong,”tuturnya.

Terkait salah seorang korban anggota TNI AD, mantan Kasat Res Narkoba Polres Sleman ini membenarkan. Menurutnya, Pardiyono, 41, warga Krondahan, Pendowoharjo, Sewon, ke se-hariannya adalah aparat dari korps baju loreng. “Iya. Itu ang-gota TNI AD. Tapi saya kurang tahu dinasnya di mana,” paparnya.

Kapolsek Banguntapan Kompol Suharno menambahkan, ke polisian mengamankan Feriyanto di ru-mahnya sekitar pukul 02.00 kemarin dini hari. Dari pengakuannya terungkap, dia membeli satu botol miras oplosan dengan harga Rp 12.000. Kemudian dijual dengan harga Rp 15.000.

“Kami serahkan ke polres beserta barang buktinya,” ungkapnya.

Suharno mengakui miras yang mengakibatkan banyak jatuh korban jiwa ini termasuk oplosan. Hanya dia belum mengetahui pasti kandungannya karena di-butuhkan uji di laboratorium. “Sekilas kayak arak,” tambahnya.

Suharno juga memprediksi jumlah korban yang masih di rawat di berbagai rumah sakit di Bantul dan Kota Jogja cukup ba-nyak. Hanya hingga kemarin pe-tang belum teridentifikasi seluruh-nya. (zam/laz/ong)