illustrasi
JOGJA – Pelaksanaan ujian na-sional (unas) tingkat SD berbeda dari Unas SMP dan SMA. Khusus tingkat SD, seluruh penyelenggaraan menerapkan paper based test (PBT). Artinya, pengerjaan masih meng-andalkan kertas, bukan komputer seperti kakak-kakak angkatan mereka.

Kepala Dinas Pendidikan Pe muda dan Olahraga DIJ Baskoro Aji menilai infrastruktur menjadi alasan utama. Tidak semua SD memiliki labora-torium komputer. Selain itu pe-nyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sendiri di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ke-mendikbud) secara langsung
“Beda dengan Unas SD yang di bawah pengawasan setiap daerah. Artinya aplikasi yang digunakan untuk UNBK langsung dari Kemendikbud. Kalau untuk daerah, saya rasa belum siap,” katanya kemarin (15/4).

Pengawasan ini fokus pada pelaksanaan teknis. Aplikasi yang digunakan pun dikembangkan oleh Kemendikbud. Selanjutnya aplikasi didistribusikan secara merata di seluruh daerah di Indonesia. Hari ini, 1.989 SD di DIJ me-nyelenggarakan Unas PBT. Total ada 49.675 siswa yang ter verifikasi di data Disdikpora DIJ.

Untuk penyelenggaraan unas ini, Aji berpesan agar integritas ke jujuran tetap dijaga. Tugas ini tak hanya menjadi tugas siswa, tapi guru dan orangtua.Siswa Berhalangan Unas Harus Punya Izin JelasPara siswa SD diminta maksimal dalam menjalani unas yang ber-langsung hari ini (16/5). Kebera-daan nilai Unas SD masih dija-dikan acuan untuk mendaftar ke jenjang pendidikan di atasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Pe-muda dan Olahraga Sleman Arif Haryono menjelaskan, selain sebagai syarat mendaftar ke jenjang yang lebih tinggi, Unas SD juga dipergunakan untuk mengukur kompetensi lulusan siswa SD yang ada di Sleman. Oleh karenanya, para orang tua benar-benar mempersiapkan putra-putri dengan baik. “Bila tidak bisa hadir, harus mem berikan keterangan yang jelas. Bila tidak ada keterangan, tidak bisa meng-ikuti ujian susulan,” jelas Arif usai mengikuti upacara Satu Abad Sleman di Lapangan Denggung. (dwi/bhn/laz/ong)