BANTUL – Sungguh bejat pe-rilaku kepala sekolah satu ini. Bagaimana tidak, sebagai guru seharusnya mengarahkan murid-muridnya berprestasi dan me-miliki akhlak yang baik.

Tapi, dia malah tega merenggut masa depan anak di bawah umur. Ter-sangka Ismail, 47, kepala Mad-rasah Aliyah (MA) di daerah Gedongkuning, Banguntapan, Bantul diketahui mencabuli S, 16, pelajar MTs di Kotagede hingga empat kali. Korban kini hamil dua bulan
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda DIJ Kompol M. Retnowati mengatakan, ter-sangka telah ditangkap pada Senin siang (16/5) sekitar pukul 12.30. Tersangka ditangkap di tempatnya bekerja tanpa perlawanan. Dia lalu dibawa ke Unit PPA Polda DIJ untuk menjalani pemeriksaan.

“Pelaku mengakui perbuatanya. Dia mengaku sudah tidak pernah berhubungan dengan istrinya sejak 2012. Statusnya duda,” katanya saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, kemarin.

Retnowati mengatakan, perbuatan pencabulan tersang-ka dilakukan sejak awal 2016 lalu. Pencabulan dilakukan se-banyak empat kali di beberapa tempat berbeda. “Terakhir 6 Mei pukul 20.00 di losmen yang berada di seputaran Gedongkuning,” ungkapnya.

Pencabulan itu terungkap saat pengasuh asrama melakukan razia di kamar korban. Saat itu pengasuh menemukan sebuah ponsel di kamar korban. Ter nyata korban kemudian mengungkap-kan bahwa ponsel tersebut milik tersangka yang dipinjamnya.

“Curhat sering dipinjami pe laku ponsel, sering dibelikan bakso, sering juga diantar jemput dari asrama ke sekolahnya. Sering juga diajak keluar,” tuturnya.

Selain itu, korban juga me-nuturkan sudah beberapa bulan terakhir tidak datang bulan. Pengasuhnya lalu inisiatif mem-belikan alat tes kehamilan dan meminta korban menjalani tes urine. Hasilnya, korban positif hamil. “Mungkin sudah jalan dua bulan,” ujar polisi berpangkat satu melati di pundak itu.

Korban ,lanjutnya, dekat dengan pelaku dan mau diajak ber-hubungan karena tidak enak sering diantar jemput. Korban yang berasal dari Tuban, Jawa Timur itu saat ini hanya hidup bersama ayahnya. Sang ibu sudah meninggal tiga tahun lalu.Retnowati memaparkan, setelah mengetahui korban hamil pe laku sempat menawari korban obat-obatan. Kuat dugaan obat yang diberikan itu digunakan untuk menggugurkan kandungan.

“Sudah diminum obatnya. Tapi sedang kami dalami dan periksa ke Balai POM untuk lebih jelas-nya,” paparnya.

Mengetahui korban hamil, pihak pengasuh asrama lalu berkoordinasi dengan ketua yayasan asrama tempat korban saat ini tinggal. Mereka lalu se-pakat melaporkan kasus tersebut ke Polda DIJ.

“Laporan masuk tanggal 9 Mei lalu,” jelasnya.Untuk mempertanggungjawab-kan perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 82 UU No 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. ” Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara,” tandasnya.

Murid dan Yayasan Memilih Bungkam

Setelah tersangka Ismail ditangkap, kondisi Madrasah Aliyah (MA) tempatnya me ngajar terlihat sepi. Para guru sekolah tersebut sudah pulang. Di MA yang berada di daerah Gedong-kuning itu hanya ada seorang penjaga dan beberapa siswi pe-rempuan yang menjaga perpus-takaan. Di bagian dalam sekolah terdapat asrama perempuan. “Pak kepala sekolah tidak ada, coba ke ketua yayasan saja,” ujar seorang perempuan berjilbab biru kepada Radar Jogja, Senin sore (16/5).

Dia enggan ditanyai lebih lanjut perihal keberadaan tersangka. Namun, dia memberikan sebuah kartu nama yang tertera nomor telepon ketua yayasan tempat pelaku bekerja. Begitu pula dengan seorang laki-laki yang menjaga sekolah tersebut. Penjaga sekolah juga menolak pertanyaan wartawan. “Ke kantor yayasanya saja, dekat kok. Masih di Jalan Gedongkuning, di belakang JEC,” kata laki-laki itu.

Selanjutnya, saat koran ini men-coba untuk bertemu dengan Ketua Yayasan Suyanta di kantor yayasan tidak ketemu. Di kantor yayasan hanya bertemu dengan seorang perempuan yang enggan disebutkan namanya. Dia me-ngatakan bahwa ketua yayasan sedang tidak berada di tempat. Dua nomor ponsel Suyanta, ketua yayasan tempat korban bekerja saat dihubungi koran ini, tak ada respons. Sementara pesan singkat yang dikirimkan juga tidak di-jawab. (riz/ila/ong)