HINGGA kemarin (15/8) petang kepolisian belum mengetahui kandungan kimia dalam minuman keras (miras) oplosan. Dibutuhkan hasil uji laborato-rium.Kendati begitu, salah seorang saksi yang tak ingin disebutkan namanya menyatakan, dua jam pasca minum korban merasakan panas yang luar biasa di teng-gorokan hingga dada. “Panas tur nggliyer,” ucapnya.

Warga Jambidan, Banguntapan, ini memang tak merasakan sendiri. Dia hanya mendengar keluhan sejumlah pasien yang dibawa ke RS Rajawali Citra dini hari ke-marin. “Salah satu pasien, ada yang teman,” jelasnya.

Di kalangan sebagian warga Jambidan, miras oplosan bukan asing lagi. Bahkan mereka juga mengetahui asal-usul dan siapa saja yang menjualnya. Mereka juga mengetahui siapa Sigit Purnomo, salah seorang korban meninggal dunia. Di kalangan mereka, Sigit dikenal sebagai tangan kanan Robert alias Udik, produsen miras oplosan. Pria asal Solo yang berdiam di Kasongan, Kasihan, inilah yang diduga meracik sendiri miras oplosan lalu dijual.

“Dengar-dengar bahannya dari revanol, potassium, spiritus, dan alkohol,” jelasnya usai mendengar pem-bicaraan tim medis salah satu rumah sakit swasta yang terletak di Jalan Pleret itu. Dia juga menengarai masih banyak miras oplosan yang disembunyikan penjualnya. Hanya dia enggan membeberkan lebih dalam siapa penjual yang menyembunyikannya. “Ada sih (yang disembunyikan). Dua je-rigen atau berapa,” ungkapnya.

Pada bagian lain, Zauri, 40, salah seorang pasien RS Nur Hidayah masih tampak lunglai. Salah satu korban miras oplosan ini hanya dapat berucap satu kata, “pusing. “Humas RS Nur Hidayah Kuncoro mengatakan, ada tiga pasien korban miras oplosan yang di-rawat di RS Nur Hidayah. Satu di antaranya meninggal dunia. “Satu rawat inap. Satu rawat jalan,” jelasnya.Rumah sakit sendiri sudah mengambil sampel yang dike-luarkan para pasien untuk di-uji laboratorium. Namun de-mikian, dia tidak berani mem-publishnya. “Itu rahasia pasien,” ucapnya. (zam/laz/ong)