JOGJA – Selain pembangunan bandara baru di Temon, Kulon-progo, aksesibilitas ke sana juga mulai dipersiapkan. Salah satunya terkait pembangunan jalur kereta bandara. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Sigit Haryanta mengaku untuk aksesibilitas ke bandara sudah mulai diper-siapkan, seperti akses jalur jalan lingkar jelatan (JJLS), jalan nasio-nal maupaun jalur kereta dari dan ke bandara.

“Rencananya untuk kereta ban-dara nanti dengan kereta listrik, seperti yang dibangun saat ini elek-trifikasi untuk jalur Solo-Kutoarjo,” jelas Sigit seusai pertemuan deng-an Dewan Ketahanan Nasional di Kepatihan, kemarin (17/5).

Menurut dia, saat ini sudah turun anggaran dari APBN untuk elektri-fikasi di jalur kereta Solo-Kutoarjo. Nantinya di jalur double track itu, akan dilewati kereta listrik untuk menggantikan kereta diesel saat ini.

Mantan Kepala Biro Umum Humas dan Protokol Setprov DIJ ini menjelaskan, untuk jalur kereta bandara masih dalam proses Basic Engineering Design (BED) dan Detail Engineering Design (DED) oleh PT KAI. “Untuk desainnya ma-sih berproses di PT KAI,” jelasnya.

Karena belum ada kejelasan desain, Pemprov DIJ hingga saat ini juga belum mengeluarkan izin penetapan lokasi (IPL) untuk jalur kereta bandara. Hal itu juga terkait belum jelasnya anggaran yang akan digunakan. “Apakah dengan anggaran dari Pemprov DIJ atau PT KAI itu belum jelas,” ujarnya.

Meskipun begitu, Sigit tidak kha-watir pembangunan jalur bandara akan molor. Pihaknya meyakinkan sebelum bandara baru resmi ber-operasi 2020 nanti, jalur kereta sudah selesai. “Untuk pemba-ngunan jalur kereta bandara dan perbaikan stasiun, dalam satu atau dua tahun sudah selesai,” ungkapnya.

Sebelumnya, Dirut PT KAI Edi Sukmoro mengatakan akan men-dukung komitmen percepatan pembangunan bandara baru di Kulonprogo. Dari gambaran yang sudah dibuat, simpangan jalur kereta akan dibuat di Stasiun Ke-dungdang, dibelokkan ke selatan ke lokasi bandara baru.

Perkiraan panjang jalur yang dibutuhkan mencapai empat kilometer. Edi menjelaskan perkiraan ang-garan yang dibutuhkan untuk rel sepanjang 1 km butuh biaya satu juta USD. Untuk anggaran yang dibutuhkan itu, bisa bersumber dari Ditjen Perkeretaapian Kemen-terian Perhubungan, jika masuk kategori perintis. “Kalau tidak, nanti akan dibiayai sendiri oleh PT KAI,” ujarnya. (pra/laz/ong)