Ismail
JOGJA – TERKAIT pencabulan yang dialami oleh siswi MTs, S, 16, Polda DIJ masih mendalami kemungkinan pelaku pencabulan Ismail, 47, dapat dikenakan pasal menggugurkan kandungan. Hal itu setelah polisi menyita obat-obatan yang diberikan duda anak empat itu kepada korban.

Obat-obatan tersebut sudah pernah diminum oleh korban. “Barang bukti satu strip obat Topicin Super A jamu dan EM kapsul. Saat ini obat tersebut masih kami periksa di laboratorium,” kata Wadir Reskrimum Polda DIJ AKBP Djuhandani Raharjo Puro di Mapolda DIJ, Selasa (17/5)
Kepolisian masih menunggu hasil laboratorium sebelum nantinya menjerat pelaku dengan pasal aborsi yakni Pasal 347 KUHP jo pasal 53 KUHP dengan ancaman 12 tahun. Pelaku, ka-tanya, mengakui berusaha meng-gugurkan kandungan korban.Djuhandani mengatakan, ter-sangka ditangkap berdasarkan laporan polisi LP No 496/V/ 2016 di Unit PPA Polda DIJ pada 9 Mei 2016 lalu.

Pelaku ditangkap di sekolah tempatnya bekerja, Senin (16/5).Perwira melati dua di pundak itu mengatakan, modus yang dilakukan tersangka yaitu me-ngantar jemput korban dari asrama ke sekolahnya.Selain itu, tersangka juga kerap mentraktir makan, memberikan cokelat serta meminjamkan ponsel untuk komunikasi.

“Kor-ban sebelumnya pernah sakit, dia (tersangka) yang kemudian selalu antar-jemput. Suatu kali singgah di hotel dan dilakukan-lah pencabulan itu,” ungkapnya.

Jarak antara asrama di daerah Gedongkuning dan MTs tempat korban sekolah di Kotagede berjarak sekitar lima kilometer. Korban, jelasnya, sehari-hari bersekolah di sebuah MTs di daerah Kotagede. Dia tinggal di asrama yang masih berada di bawah yayasan tempat ter sangka menjadi kepala sekolah Madrasah Aliyah (MA).Yayasan tersebut banyak menampung anak-anak yatim piatu dan disekolahkan di MTs dan MA dalam yayasan tersebut.

S diketahui sudah ditinggal mati ibu kandungnya. Se mentara ayahnya tinggal di Tegal, Jawa Tengah (sebelumnya ditulis Tuban, Jawa Timur).

Setelah diketahui korban hamil, tersangka mengaku akan me-nikahi korban. Namun hal ter-sebut tidak mempengaruhi proses hukumnya. “Setelah diperiksa penyidik, tersangka menjanjikan akan menikahi korban. Tapi, kasusnya tetap jalan karena bukan delik aduan,” ungkapnya.

Korban Dievakuasi dari Asrama

Dikonfirmasi Radar Jogja, ketua yayasan tempat tersangka bekerja dan korban tinggal Suyanta, belum mau banyak memberikan keterangan. Saat didatangi war-tawan, seorang perempuan mengatakan ketua yayasan sedang tidak berada di tempat. Dihubungi melalui ponselnya, Suyanta mengaku telah menyerahkan kasus tersebut kepada penga-caranya.

“Sudah kami serahkan ke lawyer kami, namanya pak Ali. Silakan ditanyakan ke yang bersangkutan atau polisi,” ujarnya singkat.

Saat wartawan mendatangi sekolah tempat tersangka me-ngajar, seorang perempuan yang menemui wartawan mengatakan, pihak sekolah belum bisa mem-berikan keterangan perihal penang-kapan Ismail. (riz/ila/ong)