JOGJA-Status mandiri dalam keikutsertaan ke PON 2016 Jabar membuat galau. Bagi Pengurus Daerah (pengda) cabang olah-raga (cabor) berstatus mandiri semakin mendekati datangnya bulan Juni membuat jantung harus berdegup kencang. Karena ada surat dari KONI DIJ, yang meminta seluruh cabor man-diri untuk melunasi biaya masing-masing atlet maksimal tanggal 1-3 Juni mendatang.

Salah satu cabor yang menga-lami kegalauan adalah hoki. Me-nurut Sekum Pengda Federasi Hockey Indonesia (FHI) DIJ Yudi Suroto, pihaknya merasa kesulitan untuk memenuhi semua biaya atlet hoki yang berstatus mandiri. Karena untuk kegiatan pemusatan latihan daerah (puslatda) saja, mereka berusaha keras untuk mencari pendanaannya.

“Apalagi saat ini kami sudah ma-suk program latihan khusus. Untuk dana kami sudah semaksimal mung-kin berupaya, tapi memang belum bisa jika harus menutup semua atlet,” katanya, kemarin.

Dalam surat yang ditandata ngani oleh Sekum KONI DIJ KPH Indro-kusumo bernomor 0524/PON/V/2016 tersebut, seluruh cabor puslatda mandiri diminta untuk segera menyelesaikan pro-ses pendaftaran entry by name maksimal pada tanggal 6 Juni.

Selain itu, seluruh cabor man-diri juga diminta menyelesaikan pembayaran biaya para atletnya. “Pemberitahuan ini sangat mendadak dan selama ini tidak ada koordinasi dari KONI DIJ dengan masing-masing cabor untuk batas akhir pembayaran. Ini tentu menjadi ganjalan,” tuturnya.

Dijelaskan Yudi Suroto, dana untuk puslatda reguler sendiri saat ini belum turun. Sehingga dana yang terkumpul terpaksa digunakan untuk sewa lapangan dan kebutuhan latihan.

Dikatakan, asumsi biaya untuk jumlah atlet mandiri dari tim hoki indoor putri dan outdoor putra sebanyak 35 atlet bisa men-capai angka Rp 175 juta. Meski kabar baik dari Pemkab Sleman bersedia menanggung sisa biaya dari yang akan didanai KONI DIJ. “Namun, dari 35 atlet hoki, hanya 4 atlet yang tercatat se-bagai atlet Sleman,” ungkapnya. (dya/dem/ong)