Hanya Ada Tujuh Siswa, Meja Kursi Banyak yang Kosong

Menjadi wilayah terpencil di Kabupaten Gunungkidul membuat Pedukuhan Wonolagi, Ngleri, Playen diperlakukan berbeda dari yang lain. Dengan keterbatasan yang ada, wilayah di ujung timur Provinsi DIJ ini justru menyimpan kisah menarik. Salah satunya keberadaan SDN Wonolagi. Seperti apa suasana di sana?
GUNAWAN, Gunungkidul
HINGGA kini Pedukuhan Wono-lagi bisa dibilang masih sulit di-jangkau. Selain jaraknya yang jauh, juga harus melewati hutan. Untuk dapat masuk ke wilayah ini ter dapat dua jalur. Dari arah timur pusat Kota Wonosari jaraknya 6,5 kilo-meter melintasi hutan dan harus naik turun gunung.

Sementara dari arah barat Kecamatan Patuk hanya berjarak 3,5 kilometer dengan melintasi jembatan gantung.

Di sana terdapat satu sekolah da-sar, SDN Wonolagi namanya. SD ini sudah berdiri sejak 1980 dengan konsep sekolah pelayanan. Yakni melayani anak yang tinggal di Wo-nolagi. Kepala sekolahnya pun masih diampu dari SD Induk Ngleri.Saat ini, untuk aktivitas kegiatan belajar mengajar (KMB) berjalan normal, namun hanya memiliki tiga rombongan belajar (rombel). Yakni kelas IV, V, dan VI
Jumlah siswa untuk kelas IV ada tiga siswa, kelas V ada dua siswa, dan kelas VI yang sekarang mengikuti ujian sebanyak dua siswa. “Untuk sarpras (sarana dan prasarana) gedung bagus, UKS, perpustakaan, dan kelengkapan lain seperti meja kursi malah lebih,” kata salah satu Guru SD Wonolagi Bagong Kriswanto saat ditemui kemarin (17/5).

Namun sejak tiga tahun terakhir, kata dia, oleh dinas sekolahnya sudah tidak boleh menerima murid baru. Sebab, SD Wono-lagi tidak muncul dalam daftar nama sekolah di Gunungkidul. Hingga sekarang SK SD Wono-lagi belum turun.

“Predikat sekolah layanan khusus SD Wonolagi dicabut oleh bupati, karena sudah dilaporkan ke pusat sudah tidak ada lagi daerah terpencil. Mungkin untuk mengejar predikat, namun ternyata sekolah terpencil me-mang masih ada,” ucapnya.

Meski begitu, para guru di sana masih punya semangat untuk memberikan pendidikan yang baik bagi siswanya yang hanya total tujuh anak saja.

Bagong menuturkan, untuk guru sendiri, diampu dua pendidik. Dua guru harus serba bisa, lantaran tidak hanya me-ngajar satu pelajaran saja.Lantas apa pengajar anak-anak ini juga warga terdekat? Ternyata tidak. Salah satu guru justru ting-gal di Klaten. Setiap hari nglaju dengan jarak tempuh 56 kilo-meter dengan waktu perjalanan sekitar 1, 5 jam. (ila/ong)