PENGUSAHA penginapan dan rumah makan (RM) di pesisir Pantai Glagah, Temon, yang ter-dampak pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) memilih direlokasi di tanah kas Desa Sindutan. Alasannya, berada di perbatasan Kulonprogo-Purworejo yang dianggap lebih strategis untuk melanjutkan usaha.Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sumantoyo menga-takan, pihaknya tidak berkebe-ratan membeli tanah relokasi, asalkan bisa melanjutkan usa-hanya.

Hasil pertemuan dengan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo Senin(16/5) petang, pemkab telah menawarkan beberapa alternatif lokasi.Beberapa lokasi itu, antara lain, di Desa Janten, Desa Kebonrejo, Desa Glagah, dan Desa Sindutan. Kendati demikian, Sumantoyo menyatakan sebagian besar memilih direlokasi di Desa Sindutan, khusus-nya yang berdekatan dengan rest area. “Lebih suka di tanah kas Desa Sindutan karena bisa untuk usaha,” katanya ke-marin (17/5).

Dijelaskan, beberapa pelaku usaha bahkan ada yang memutuskan untuk berpindah kependudukan ke Desa Sindutan, dan tidak ada masalah mengenai hal itu. Sebab, lokasi tanah kas Desa Glagah cen-derung sempit dan berdempetan dengan dermaga serta bibir sungai, dianggap hanya bisa menampung beberapa warga saja. “Ada kemungkinan area di dekat dermaga itu juga akan tetap di-fungsikan untuk usaha. Berbeda dengan yang ada di tanah kas Desa Sindutan, lokasi di Desa Glagah akan dimanfaatkan secara berkelompok melalui koperasi. Kami kan punya koperasi, bisa dimanfaatkan untuk di sisi dermaga,” jelasnya.

Ditambahkan, para pelaku wisata juga meminta agar diikutkan dalam pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas mereka. Karena hampir semua ingin melanjutkan usaha-nya, terlebih lagi dengan pening-katan kegiatan wisata pasca keberadaan bandara.Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menyatakan, akan ada pendataan bagi para pelaku wisata yang bersedia untuk dire-lokasi ke tanah kas Desa Sindutan. Pemkab juga menyambut baik kesediaan para pelaku wisata ini untuk direlokasi ke lokasi itu karena sesuai arahan Gubernur HB X yang menghimbau agar warga tidak pindah terlalu mepet dengan tembok bandara.

“Segera akan didata,” katanya.

Hasto menambahkan, untuk relokasi gratis diprioritaskan bagi warga dengan KTP Kulonprogo yang tergolong miskin. Warga yang tidak mampu ini rencananya akan direlokasi ke Dusun Siwates dan Dusun Girigondo, Kaligintung dengan sistem magersari. Hal ini juga sudah mendapat perse-tujuan dari Paku Alam X, dengan syarat dilakukan dengan prioritas bagi warga yang tidak mampu. (tom/laz/ong)