HUKUMAN MATI: Hardani alias degleng saat mendengarkan vonis atas dirinya di PN Sleman pada Oktober 2013
SLEMAN – Di tengah hebohnya kasus pencabulan di wilayah DIJ, diluar dugaan, Hardani alias Degleng, terpidana mati kasus pemerkosaan dan pembunuhan siswi SMK pada 2013, lagi-lagi mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Pengadilan Negeri (PN) Sleman kemarin (17/5). Bekas anggota Polsek Kalasan berpang-kat brigadir itu mengklaim memiliki novum (bukti baru) yang bisa meringankan hu-kumannya.

Dalam sidang tertutup yang dipimpin Satia Yun Irawati SH, Hardani hanya menyerahkan surat pernyataan yang menyebutkan adanya bukti baru. Berupa dua buah telepon seluler berisi pesan singkat tentang perkara yang dihadapinya.

Namun, pemerkosa pelajar dibawah umur itu tidak membawa barang bukti yang di-maksudkannya.Menyikapi hal tersebut, majelis hakim memutuskan untuk menunda sidang PK seminggu kemudian. Hakim juga memerin-tahkan pemohon PK menunjukkan bukti baru di persidangan.

Irawati menilai Har-dani telah salah persepsi tentang sidang PK. Hardani sama sekali tidak memahami konteks persidangan. Itu terlihat dari be-berapa permohonan yang disampaikan kepada majelis hakim. Salah satunya, per-mintaan menghadirkan saksi baru. “Yang bisa mengajukan saksi dan alat bukti baru, ya, terpidana sendiri. Bukan pengadilan,” tegasnya.Anggota Majelis Hakim Ayun Kristianto SH menambahkan bahwa surat yang disam-paikan Hardani hanya berisi pemaparan dan penjelasan kasus. Tidak ada novum. .

“Pendapat majelis hakim juga tidak di-bacakan. Tapi langsung dikirimkan ke Mahkamah Agung (MA),” katanya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU Ismet Kur-niawan SH mengatakan, tanggapan tim jaksa tidak menyangkut pokok perkara. Itu akan dibacakan pada tahap kesimpu-lan. “PK ini, kan sudah kesekian kali yang diajukan terpidana sendiri,” ujarnya usai persidangan.

Sebagaimana diketahui, Hardani meru-pakan salah satu dari tiga terpidana mati atas kasus pemerkosaan tersebut. Bersama dua terpidana lain, yang merupakan pa-sangan bapak-anak, Khairil dan Yonas, Hardani divonis hukuman seumur hidup oleh majelis hakim dalam persidangan pada 24 Oktober 2013. Ketiganya terbuk-ti bersalah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan.Ketiganya lantas mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) DIJ pada 2014.

Di tingkat banding, PT pengadilan me-nguatkan vonis PN Sleman. Tak puas dengan hasil banding, mereka lantas menempuh kasasi ke MA. Namun, bukannya menda-pat keringanan hukuman, MA justru mem-perberat vonis menjadi hukuman mati.Putusan kasasi untuk Yonas ditetapkan pada 13 Mei 2014 dengan nomor 522K/Pid.Sus/2014. Sementara vonis mati bagi bapaknya, Khairil Anwar, dituangkan da-lam amar putusan Nomor 454K/Pid.Sus/2014 tertanggal 29 April 2014.

Sedangkan vonis kasasi terhadap Hardani diputuskan pada 21 April 2014 dengan Nomor 400K/Pid/2014.MA menjatuhkan vonis tersebut dengan pertimbangan, terpidana secara beren-cana menghilangkan nyawa korban setelah memperkosanya secara bergiliran. Setelah itu, jasad korban dibuang di pinggir sawah yang sepi. Jasad korban juga dibakar untuk menghilangkan jejak. (riz/yog/ong)