Konsumsi minuman keras (miras) oplosan dan kekerasan seksual yang marak terjadi di DIJ belakangan ini ternyata memiliki korelasi. Beberapa kasus kekerasan seksual diawali dengan konsumsi miras.

Perlu Tindakan Preventif, Penegakan Hukum Harus Tegas

HAL itu diungkapkan oleh Kepala Bidang Perlindungan Hak-Hak Perempuan dan Anak Badan Perlindungan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIJ Waty Marliawati. Salah satu contoh kasusnya yakni pencabulan anak di bawah umur oleh lima orang di Ngemplak, Sleman dengan korban Z,14, dan L, 15, beberapa waktu lalu.

Para pelaku menenggak miras sebelum melakukan tindakan asusila tersebut. “Kasus (pencabulan) di Ngemplak kemarin kan juga karena konsumsi miras,” tandasnya, kemarin (17/5)
Menurutnya, penyebab kasus kekerasan seksual memang beragam. Faktor konsumsi miras menjadi salah satunya. Dari data yang dihimpun BPPM DIJ, dari lembaga layanan korban kekerasan provinsi maupun kabupaten dan kota, jumlah kasus kekerasan seksual terjadi peningkatan.

Pada 2014 jumlah kasus ke-kerasan pada perempuan dan anak di DIJ tercatat 1.371. Angka ini meningkat pada 2015 men-jadi 1.497 kasus.

“Untuk kasus kekerasan seksual pada perem-puan selama 2015 lalu tercatat 340 orang,” jelasnya.

Selain karena miras, Waty menyebut beberapa faktor lain penyebab terjadinya kekerasan, mulai dari kemiskinan, ke tahanan keluarga yang rapuh hingga lingkungan. Juga perkembangan teknologi dan informasi, serta dampak negatif internet.

Kebiasaan orang tua mem-berikan gadget tanpa bisa me-ngontrol penggunaannya juga menjadi salah satu penyebab. “Orang tua saat ini cenderung memberi gadget supaya anaknya anteng, tapi tidak tahu jika yang diakses situs porno dan se-bagainya,” ujarnya.

Oleh karena itu, BPPM ber-sama Dinas Komunikasi dan Informatika DIJ akan menemui provider supaya ikut berperan memblok konten-konten negatif. Seperti konten pornografi sehingga tidak bisa diakses oleh anak di bawah umur.Termasuk menggencarkan razia di warnet-warnet (warung internet) yang disinyalir masih bisa mengakses situs pornografi.

“Dengan mengakses situs por-nografi, anak dipaksa dewasa sebelum waktunya,” tuturnya.

Selain itu, Waty menilai, rendahnya hukuman bagi pe laku tindak kejahatan seksual men-jadi persoalan lain. Termasuk jika terkait dengan pelaku tindak kekerasan seksual yang berasal dari keluarga dekat. Beberapa kasus malah dihentikan karena dilakukan pendekatan keke-luargaan.

“Ada yang kami dampingi, kemarin korban perkosaan ayah kandung yang baru selesai mengikuti ujian SMP, bapaknya kabur,” ungkapnya.

Terpisah, anggota Komisi A DPRD DIJ Rendardi Suprihandoko menyatakan keprihatinannya terhadap kasus kekerasan seksual maupun oplosan di DIJ. Me-nurutnya, persoalan ini se-harusnya menjadi tanggung jawab bersama. Negara harus hadir dan membuat sebuah strategi yang tepat untuk me-ngatasi semua.

“Bukan hanya tegas dalam menegakkan hukum, melainkan upaya preventif dan persuasif harus terus dilakukan,” kata mantan Ketua DPRD Sleman itu.

Potong GenerasiPeminum Oplosan

Terkait adanya kebiasaan minum miras oplosan di ma-syarakat, Sosiolog Kriminal UGM Suprapto mengatakan, budaya minum miras memang sudah lama ada. Mereka mencari miras yang murah. Nah, oplosan ini yang menjadi pilihan mereka. Apalagi sekarang miras di pasaran dan toko-toko, selain mahal juga tidak mudah didapat.

“Peminum lantas bergeser ke oplosan. Sementara mereka yang ngoplos tidak melakukan studi perbandingan bahannya. Mereka (peracik) memenuhi per mintaan dari konsumen terkait cam-purannya,” katanya kepada Radar Jogja.

Dia mengibaratkan, konsumen oplosan seperti membeli lotek. Konsumen kadang meminta yang macam-macam mengenai rasa dan aroma campurannya.

“Pa-dahal yang pesan tidak tahu kondisi lambung dan sarafnya. Akhirnya muncul adanya korban lagi,” ungkapnya.

Terulangnya kasus peminum yang tewas karena oplosan, katanya, karena budaya me-ngonsumsi oplosan belum di-potong serius. Oleh karena itu, dia memastikan akan berulang jika tidak ada penanganan yang disertai sanksi tegas. “Sanksinya jangan hanya kon-sumen, tapi juga produsen,” tegasnya.

Pria yang juga Kepala Pusat Studi Wanita UGM ini me-ngatakan, ada beberapa hal yang membuat seseorang mengon-sumsi miras. Yang pertama karena pengaruh kelompok pertemanan, baik itu remaja maupun dewasa.

“Dia biasanya ikut-ikutan dalam kelompoknya,” paparnya.Kedua, seseorang yang me-minum miras karena motivasinya ingin membangkitkan ke beranian dan semangat.

Dia minum miras karena perlu ada pacuan se-mangat untuk bekerja atau menghadapi sesuatu. “Biasanya dia orang yang per-caya dirinya kurang. Sedangkan yang ketiga, orang yang minum karena mengalami problem sosial atau masalah, dan miras sebagai pelarian,” bebernya.

Suprapto mengimbau, pihak terkait jangan hanya mengatasi akibat dari kejadian tersebut. Jangan hanya perlakuan pada konsumen, tapi preventif pada produsen. “Dibuat landasan hukuman penanganannya, ada-kan razia. Tak perlu setiap hari, tapi bisa sampling tertata dan terjadwal. Saya kira orang tidak akan bisa berspekulasi,” jelasnya. (pra/riz/ila/ong)