JOGJA – Direktur Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), Kemenristek Dikti Bunyamin Maftuh mengimbau sivitas akademika perguruan tinggi agar tak hanya mengandalkan dosen dalam menjalankan perkuliahan. Lebih dari itu, Maftuh mendorong peran lebih pada tenaga kependidikan (tendik). Misalnya, tenaga laboratorium atau pus-takawan. Maftuh memposisikan tendik sejajar dengan dosen. Terutama untuk transfer ilmu dan pendam-pingan mahasiswa. “Tidak ideal jika ada laboratorium tidak me-miliki laboran. Proses belajar dan mengajar tidak akan optimal,” ujarnya saat mengisi diklat Fungsional Pra-nata Labolatorium Pen-didikan di Hotel Novo-tel kemarin (17/5).

Nah, guna optimali-sasi peran tendik, Ke-menristekdikti mendo-rong setiap perguruan tinggi melakukan pen-dataan melalui sistem registrasi. Layaknya tenaga pengajar. Tendik terbagi dua klasifikasi, yakni teram-pil dan ahli. Nantinya setiap tenaga kependidikan akan memiliki Nomor Induk Tenaga Kependidikan (NITK). “Sistemnya kami targetkan selesai akhir tahun ini,” katanya.

Kasubdit Karier Tenaga Kependidikan Kemenristek Dikti Ferry Ramadhan menambahkan, latar belakang pendidikan tendik di perguruan tinggi negeri tidak selalu sama. Menurutnya, sebagian besar (70 persen) laboran terampil adalah lulusan D3. Sementara sisanya sarjana (S1).Hal sebaliknya terjadi pada tendik ahli. “Data Kemenristekdikti menunjukkan jumlah ten-dik di Indonesia mencapai 3.150 orang. Empat pu-luh persen tenaga ahli, sisanya tenaga terampil,” jelasnya. (dwi/yog/ong)