BUDAYA minum minuman keras (miras) ternyata bukan budaya asli nusantara. Sosiolog Drs Andreas Soeroso M.S mengungkapkan, budaya minum miras dikenalkan oleh kaum kolonial Belanda. Dikenalkan kepada pejabat pemerintahan kala itu, kemudian menyebar sampai ke masyarakat.

Hingga dalam perkembangannya, setiap daerah di Nusantara memiliki produk miras tersendiri. Karak-teristik dan budaya miras di setiap daerah berbeda-beda. Termasuk di Jogjakarta, yang menurutnya, me-miliki tingkat konsumsi miras yang sangat rendah dan lembut. “Dulu zaman kerajaan, seperti di Keraton Jog-jakarta, ada konsumi minuman seperti itu. Tapi, levelnya hanya untuk mengha-ngatkan badan dan porsinya tidak besar
Itu pun dikenalkan oleh pe-merintahan kolonial Belanda yang berada di DIJ,” jelasnya kepada Radar Jogja, kemarin (18/5).Ini dikuatkan dengan dikenal-nya minuman tuak atau arak. Minuman ini merupakan hasil fermentasi buah-buahan atau tumbuhan. Dari segi kesehatan juga terjamin sebetulnya, karena bahan baku yang digunakan tidak berbahaya.

Dosen Sosiologi UGM ini men-jelaskan, seiring waktu berjalan, dinamika juga terjadi. Berawal ketika Jogjakarta mulai menjadi destinasi warga dari berbagai suku. Ini pula yang membuat budaya tanah seberang turut berkembang di Jogjakarta.Tidak bisa dipungkiri, lanjutnya, budaya yang dibawa oleh pen-datang turut berkembang. Se-hingga ada istilah Jogjakarta dikenal sebagai Indonesia mini, budaya luar turut terakulturasi dengan budaya asli. “Termasuk budaya minum miras di setiap daerah asal pendatang,” katanya.

Jogjakarta sendiri, menurutnya, memiliki kultur budaya tradisi yang kuat. Sehingga mampu membentengi budaya yang dianggap tidak cocok dengan kultur lingkungan. Contoh ide-alisme kultur ini tertuang dalam berbagai wujud kesenian di DIJ. “Jogjakarta masih sangat ber-orientasi dengan budaya keraton dan ini bagus. Idealisme budaya inilah yang perlu dijaga dan di-kuatkan. Meski tak memungkiri, sekarang mulai terkikis dengan masuknya budaya luar,” tegasnya.

Dia menganalisis terus ter-ulangnya peminum yang tewas akibat miras karena lemahnya idealisme. Pola pikir yang me-nurunkan idealisme adalah cara berpikir instan. Selain itu, para peminum miras ini juga tergabung dalam sebuah ke-lompok masyarakat.

Dalam kelompok inilah mun-cul simbol-simbol solidaritas. Salah satunya adalah budaya minum yang dianggap sebagai suatu kewajaran. Tak jarang pula untuk mendapatkan pe-ngakuan, seseorang harus me-nenggak miras terlebih dahulu sebagai pembuktian. “Dulu berpikir berani lapar takut mati, tapi sekarang se-baliknya. Pikiran inilah yang membuat orang berani bertindak diluar nalar. Ditambah lagi, dalam kelompok jika tidak melakoni maka dianggap tidak solider,” katanya.

Pola pikir ini, menurutnya, yang harus dihapuskan. Tidak hanya menurut kehendak kelompok, tapi memiliki idealisme yang kuat.

Bahkan dengan berpikir jernih seharusnya dapat me milah tindakan positif dan negatif. Falsafah hidup juga mulai ken-dor, dengan memilih pemikiran yang instan. Minum untuk me-lupakan masalah, padahal kalau dilihat justru akan menambah masalah. “Sehingga sering di-jumpai tragedi miras terus te-rulang meski sudah banyak yang tewas,” katanya. (dwi/ila/ong)