RIZAL SN/RADAR JOGJA
TERTUTUP: Suasana lantai dua bangunan ruang guru dan kepala MA tempat tersangka bekerja. Di belakang bangunan ini terdapat asrama tempat korban tinggal sehari-hari. Foto diambil tanggal 17 Mei lalu.
SEMENTARA ITU, terkait kelanjutan penangkapan Ismail, 47, kepala Madrasah Aliyah (MA) swasta di daerah Bangunta-pan, Bantul sebagai pelaku pencabulan, tampaknya tak diketahui warga sekitar. Bahkan para siswanya juga tak tahu kabar tersebut.

Kepala RT di wilayah sekolah tersebut, Kusmiyanto mengatakan, penghuni as-rama dan murid MA selama ini terkesan eksklusif dan kurang bergaul. “Saya ndak pernah dilapori jumlah siswanya berapa, asalnya dari mana ndak pernah memberi tahu. Kepala sekolahnya ditangkap juga ndak tahu,” katanya kepada Radar Jogja, Rabu (18/5)
Kus, demikian dia biasa disapa, sudah membaca berita kasus pencabulan kepala MA di daerah Banguntapan. Namun, dia kaget saat diberitahu bahwa ter sangka yang dimaksud bekerja di wi-layahnya. “Malah saya kira ke-pala MA negeri,” ungkapnya.Dia mengatakan, pihak MA tidak pernah memberitahukan jika ada kegiatan. Acara ke-masyarakatan di tingkat RT juga jarang mengikuti.

“Ndak pernah ada laporan apa-apa, kalau buat acara ya di ling-kungan situ saja. Kegiatan ke-masyarakatan belum pernah ada siswa yang ikut. Jarang ber-sosialisasi, kerja bakti juga tidak ikut,” tuturnya.Oleh karena itu, menurutnya, tidak heran jika warga tidak tahu kabar penangkapan ter-sangka.

“Tidak ada warga yang tahu, mungkin segelintir saja,” katanya. Ditanya lebih lanjut mengenai sosok kepala MA Ismail, Kus-miyanto juga mengaku tidak mengenalnya. Dia hanya me-ngenal sosok Asrul Budin, pem-bina sekolah tersebut.

Pensiunan PNS itu, menurut Kusmiyanto, lebih banyak menyokong untuk sekolah. “Pak Asrur Budin yang lebih tahu. Kalau Pak Suyanto mengurusi panti. Panti kase-puhan, panti putri, tidak jadi satu dengan putra,” bebernya.

Radar Jogja lalu mencoba me-nemui Asrur yang juga salah satu pengurus MUI Banguntapan Bantul itu di rumahnya. Rumah Asrur membentang dari depan MA sampai Jalan Gedongkuning. Di bagian depan rumahnya sedang ada pekerjaan renovasi. Seorang pekerja mengatakan, si empunya rumah berada di dalam. Namun harus memutar lewat pintu belakang. Hanya, saat sampai di depan pintu seorang perempuan yang bekerja di rumahnya mengata-kan Asrur tidak berada di tempat.

“Sedang tak ada di rumah. Pergi dari pagi,” ujarnya. Terpisah, salah satu murid pe-rempuan di MA tersebut me-ngatakan, jumlah siswa sekolah tersebut berjumlah sekitar seratusan. Terdiri dari laki-laki dan perempuan. Asrama perem-puan berada di dalam MA di sebelah timur ruang kepala MA.

“Siswanya banyak yang dari luar Jogja. Saya dari Lampung. Ada dari Kalimantan, Flores juga ada. Dibayarin, beasiswa semua. Tinggalnya di asrama. Tapi kalau laki-laki tempatnya lain, tidak jadi satu,” katanya.Ditanyakan mengenai kebera-daan kepala MA, siswi itu menga-ku tidak mengetahui kebera-daannya. (riz/ila/ong)