JOGJA – Kejadian tidak mengena-kan harus dialami oleh para tour leader dari Travel Agent Verona Malang. Lima bus yang mereka gunakan untuk membawa wisata-wan berlibur ke Jogja diusir dari Taman Parkir Senopati, kemarin (18/5).

Masalahnya sepele, juru parkir (jukir) di Taman Parkir Senopati tersinggung dengan jawaban yang diberikan oleh slah satu tour guide kepada para mahasiswa UGM yang tengah mengadakan survey tentang perpakiran di DIJ.

Lima bus tersebut lantas diusir pergi dari Senopati dan diminta pindah ke Taman Parkir Ngabean.

“Saya hanya menjawab perta-nyaan mahasiswa UGM, mungkin jawaban saya didengar mereka (jukir),” ujar Tour Leader Verona Rifki ketika ditemui di Ngabean kemarin.

Rifki mengatakan, kemungkinan para jukir yang mendengar obrolan antara dirinya dengan para maha-siswa merasa tidak senang. Saat itu, para mahasiswa menanyakan kepuasan parkir di DIJ
Rifki menjawab bahwa di Jog-jakarta cukup sulit untuk men-cari parkir, disamping itu saat parkir di Taman Parkir Seno-pati juga susah karena harus antre.

Setelah wawancara dengan mahasiswa berakhir, dia di dekati jukir Senopati yang dengan kasar mengusir lima bus yang di-bawanya keluar dari Taman Parkir Senopati. “Jawaban saya kan sesuai dengan kondisi yang saya alami,” tuturnya.

Pengusiran lima bus dari Taman Parkir Senopati ke Ngabean ter-sebut juga berdampak pada wisatawan yang kebingungan, terutama para rombongan dari Malang tersebut.

Mereka yang mau melanjutkan perjalanan, bingung karena bus mereka su-dah tidak ada. Wisatawan asal Malang tersebut harus diangkut dengan kendaraan lain ke Nga-bean.Rifki yang membawa para pe-lajar dari Malang tersebut me-ngaku terkejut dengan per lakuan para jukir tersebut. Dia me-nyayangkan perilaku jukir ter-sebut. Sebab, tindakan itu bisa mencoreng pariwisata Jogja. “Jogja yang selama ini dikenal ramah kok ada perlakuan seperti ini,” keluhnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwi-sata DIJ Aris Riyanto menyayang-kan kejadian pengusiran bus pariwisata tersebut. Menurutnya, harusnya jukir juga bisa me-representasikan wajah Jogja yang sopan dan ramah.

Perilaku yang tidak menyenangkan, ujar Aris, dikhawatirkan membuat wisa-tawan trauma dan tidak mau datang lagi ke Jogja. “Dalam sapta pesona kan ada unsur ramah dan kenangan, itu harus diperhatikan,” pintanya. (pra/ila/ong)