Oleh
AMIN SURACHMAD

LAMAT-LAMAT dalam ingatan, seorang lelaki paro baya mengucapkan rasa terdalamnya: “Kulo tresna anak kulo. ” Ucapan itu begitu lirih. Saat mengucap kata-kata itu, mata lelaki paro baya tersebut berkaca-kaca. Lelaki paro baya itu adalah ayah dari seorang perempuan muda yang menjadi korban perilaku tercela yang dilakukan lebih dari tujuh lelaki.

Perempuan muda itu, dibuat mabuk dengan minuman keras, diperkosa, dibunuh, lantas jasadnya dibakar. Kejadian yang terjadi beberapa bulan setelah tahun 2013 bergulir itu, mengentak publik Jogjakarta. Sungguh, betapa pedih perasaan sang lelaki paro baya.Kasus kekerasan seksual dengan korban perempuan muda, atau tepatnya siswi/pelajar perempuan, terus saja terjadi.

Di Bengkulu, siswi belasan tahun diperkosa oleh belasan lelaki. Kejadian hampir sama pun terjadi di Palu, bahkan jumlah pelakunya lebih banyak. Terjadi pula di Surabaya, dan banyak kota lain di negeri ini.Di Jogjakarta? Ah… beberapa hari lalu terungkap ada kepala sekolah yang menghamili muridnya. Opo tumon?
Sulit untuk mencari akar yang menjadi faktor pemicu maraknya kekerasan seksual ini. Ada yang menyebut minuman keras. Mungkin, minuman beralkohol atau oplosan bisa menjadi salah satu pemicunya. Saat bersilatu-rahmi di sejumlah tempat di Jogjakarta, ada beberapa teman yang memang gemar menenggak minuman keras. Tapi, mereka tidak pernah melakukan ke-kerasan seksual.

Mereka hanya “duduk” dengan tenang saja selama atau usai menikmati minuman yang mampu mem-buat mabuk tersebut. Pornografi di gawai (gadget)? Entahlah. Mungkin juga bisa. Dalam berbagai kesempatan dolan di sejumlah kampung di Jogjakarta, kerap saya jumpai anak-anak yang masih enum membincangkan soal hal-hal saru.

Mereka sangat-sangat enum, begitu muda. Usianya sekitar sepuluh hingga 15 tahun, masih duduk di bangku kelas lima atau enam sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. Mereka berkumpul. Setiap dari mereka memegang hand-phone berbasis android. Mata mereka menatap tajam ke layar handphone yang dipegang di tangan.

Ternyata, mereka me-nonton film yang masuk kategori “khusus dewasa”. Selain itu, mereka juga mengakses gambar-gambar yang masuk golongan “sangat porno”.Mereka biasa saling berbagi film atau gambar porno. Cukup dikirim lewat bluetooth. Tak perlu berselancar di jagad dunia maya, film atau gambar porno sudah hinggap di handphone.

Ehm… Teknologi begitu me-mudahkan orang untuk apapun. Termasuk akses pada hal-hal mesum.Apa yang dilakukan oleh se-jumlah anak itu, mirip dengan yang terjadi saat mampir di sejumlah angkringan yang cukup sering saya datangi. Pengunjung angkringan rata-rata dewasa. Ada pula yang rambutnya mulai memutih. Perbincangan seputar pornografi, guyon mesum, dan berbagi film atau gambar “biru”, juga lumrah saja.

Dari obrolan ringan ketika dolan di banyak tempat itu, terungkap bahwa mereka begitu biasa melihat apapun yang ber nuansa pornografi. Kebiasaan yang di-lakukan setiap hari. Bahkan, sangat mungkin dilakukan di setiap kesempatan jika memun-gkinkan. Entah di rumah, se kolah, warung, atau ruang publik. Di mana pun.

Setiap kali ada waktu luang, waktu diisi dengan mengakses hal porno dari gadget yang ada di tangan.Kebiasaan yang dilakukan secara terus, rutin, atau sering akan memunculkan kecanduan. Adiktif. Terekam di alam bawah sadar. Bisa nyandu. Ini termasuk terhadap hal seksual. Adiktif terhadap hal berbau seksual dapat membuat seseorang menjadi tidak “normal”.

Akhirnya, sangat mungkin, bisa meme-ngaruhi pola pikir dan pola sikap. Jika sejak masih enum sudah mengalami adiktif seksual? Dan itu berlangsung dalam rentang waktu lama, bertahun-tahun, atau puluhan tahun? Jujur, saya tidak tahu jawabannya.Terlintas dalam pikiran, ba-nyakkah orang yang kecanduan pornografi melalui gawai? Se-berapa banyak orang yang me-ngalami adiktif seksual gara-gara mengakses hal saru di internet?
Terus terang, mboten mudeng. Yang jelas, mengakses porno-grafi melalui gadget adalah hal privat. Sangat personal. Orang lain yang duduk di hadapan sekali pun tentunya tidak mengetahui apa yang kita buka di gawai.Beberapa waktu lalu, saya berjumpa dan berbincang cukup akrab dengan seorang lelaki paro baya berpeci hitam. Dia memimpin belasan muridnya di sebuah madrasah di Jogjakarta melakukan kunjungan ke redaksi Radar Jogja untuk menyampai-kan kabar bahagia.

Yakni, para murid binaannya itu berhasil membuat berbagai makanan. Makanan itu laris manis. Yayasan yang menaungi madrasah itu pun memperoleh pemasukan tambahan.Tapi, beberapa hari lalu, betapa kaget ketika mendapat infor-masi bahwa lelaki paro baya berpeci hitam itu ditangkap oleh teman-teman dari kepolisian. Dia menghamili salah seorang murid perempuannya.

Terkadang, sungguh sulit untuk memahami kenyataan. Tentang lelaki paro baya yang tresna kepada putrinya. Tentang anak-anak enum yang sering ber-kumpul. Atau, tentang lelaki paro baya berpeci hitam itu.Ah, agak sesak juga mengikuti ingar bingar informasi dari gad-get dan handphone. Saatnya rehat sejenak. Saya memilih matikan handphone dulu. Monggo… (yog/ong)