Namun, Hardani menempuh upaya hukum dengan mengaju-kan peninjauan kembali (PK) ke Pengadilan Negeri Sleman. Pengamat Hukum Universitas Atmajaya Jogjakarta Dr Y. Sari Murti SH MHum menyatakan bahwa hukuman mati memang masih menjadi pro-kontra di masyarakat.

Bahkan, dari per-spektif hak asasi manusia (HAM) ada yang tidak sepakat hukuman mati.Faktanya, hukuman mati masih berlaku secara normatif. Ter-utama bagi para pelaku ke jahatan sadis. Seperti dilakukan Hardani dan kawanannya.

Apalagi, kala itu, Hardani adalah seorang aparat hukum yang seharusnya melindungi dan menjadi pa nutan masyarakat. “Tidak sepantasnya manusia diperlakukan seperti itu. Hukum kita masih mengenal hukuman mati. Hal itu untuk memenuhi keadilan masyarakat. Bisa di-katakan, barangkali memang harus seperti itu (dihukum mati),” paparnya kemarin (19/5).

Perempuan yang juga ketua Lembaga Perlindungan Perem-puan dan Anak DIJ itu me-negaskan, bahwa dari sudut pandang hukum positif, huku-man mati merupakan sesuatu yang sah.

Jika kejahatan dan kekejaman pelaku terbukti di persidangan.Di sisi lain, Sari mendorong segera digolkannya wacana hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual. Bahkan, jika pelakunya seseorang yang telah dewasa, Sari merasa perlu adanya hukuman tambahan selain pe-ngebirian. Yakni, sanksi sosial. Misalnya, mengumumumkan identitas dan foto pelaku di media massa. Hal itu guna mencegah pelaku mengulagi kembali perbuatan jahatnya.

Menurut Sari, jika pelaku ke-jahatan seksual hanya dikebiri, bukan tidak mungkin mereka akan mengulangi perbuatannya dengan bagian tubuh yang lain. Sanksi sosial itu dianggap lebih ampuh untuk mengubah pola pikir pelaku kejahatan seksual. “Setidaknya mereka bisa mikir. Seharusnya tidak melakukan kejahatan itu. Kalau dia masih mikir masa depan,” ucapnya.

“Kalau pelakunya anak, ya, jangan (dikebiri). Tapi dibina. Saya tidak sepakat kalau anak dikebiri,” lanjut Sari.

Sebelum melangkah ke pe-negakan hukum, Sari lebih konsen pada pembenahan moral remaja mulai hulu sampai hilir. Itu men-jadi kewajiban yang dilakukan semua pihak. Mulai lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sasaran utamanya adalah men-cegah atau menghindarkan anak-anak dari pengaruh pornografi.

Terkait hal itu, kepedulian dan pengawasan orang tua terhadap anak-anak mereka penting di-lakukan secara kontinyu. “Karena dibanding narkoba, virus porno-grafi bisa lebih berbahaya bagi otak,” ujarnya. (riz/yog/ong)