KENANGAN:Rismiyati, ibu almarhumah Priya Puspita Restanti menunjukkan foto kenangan putri pertamanya itu semasa masih hidup.

Keluarga Priya Puspita Berharap Pelaku Tetap Divonis Berat

Merebaknya berita kasus pencabulan terhadap anak dibawah umur seolah mengorek luka lama bagi Rismiyati. Ya, itu lantaran putrinya, Priya Puspita Restanti,16, yang meninggal pada 2013 silam juga akibat tindakan sadis kawanan laki-laki berhati iblis.

RIZAL SETYO NUGROHO, Sleman
“SAYA ingin mereka tetap dihu-kum mati,” ungkap Rismiyati me-ngomentari hukuman yang paling layak bagi para pelaku pe merkosaan dan pembunuhan anaknya. Apalagi, selama tiga tahun sejak kejadian pilu yang menimpa Priya, tak satu-pun keluarga pelaku menyambangi rumah Rismiyati.

Saat Radar Jogja bertandang ke rumah Rismiyati di Dusun Medelan, Umbulmartani, Ngemplak, Rismiyati mengaku sedang kurang enak badan. Kendati begitu, kondisi ke sehatannya itu tak mempe ngaruhi daya ingatnya akan nasib tragis yang menimpa anak Priya.Aksi kejam tujuh pelaku, khu-susnya Hardani, yang bekas polisi itu, tak akan pernah lekang dari dalam benaknya
Apalagi, saat ini, terpidana mati atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan Priya itu tengah berupaya dengan segala cara agar bisa lolos dari timah panas regu tembak. Bekas anggota Polsek Kalasan itu telah mengajukan pe ninjauan kembali (PK) ke Pengadilan Ne-geri Sleman.

Bukti baru (novum) yang diajukan pria 56 tahun itu memang terkesan mengada-ada. Hanya berupa secarik kertas berisi pernyataan salah satu terpidana mati lain, Chairul Anwar, yang juga telah memerkosa Priya.Aparat tetap menghormati upaya hukum yang ditempuh Hardani alias Degleng itu. Namun, tidak demikian dengan sikap Rismiyati.

Terlebih, perempuan kurus itu selalu terbawa emosi setiap kali mendengar berita tentang pencabulan atau pemer-kosaan terhadap gadis dibawah umur. Karenanya, Rismiyati meng-hendaki orang-orang yang telah berbuat kejam, seperti yang ter-jadi pada putri pertamanya itu, harus dihukum setimpal. Bagi Rismiyati, vonis mati adalah hukuman paling setimpal.Kendati demikian, Rismiyati menyerahkan semua persoalan kepada penasihat hukumnya.

Sarli Zulhendra SH, penasihat hukum keluarga Rismiyati, tak habis pikir dengan sikap Hardani. Bahkan, selama per-sidangan bekas anggota Polsek Kalasan berpangkat brigadier itu selalu mengelak keterliba-tannya.Padahal, pelaku lain mengakui semua perbuatan dan kronolo-gis yang terjadi.

Bahkan, terpi-dana mati lain yang juga pelaku, yakni Chairul Anwar dan Yonas Re valusi Anwar membeberkan keterlibatan Hardani di muka sidang.Lebih dari itu, pasangan bapak-anak itu juga mengungkapkan bahwa Hardanilah aktor intelek-tual di balik aksi pemerkosaan, pembunuhan, dan pembakaran jenasah Priya.Semua bukti dan pernyataan saksi pula yang mendorong Ha-kim Mahkamah Agung Artidjo Alkostar men jatuhkan hukuman mati kepada Hardani.

“Bukti-buktinya jelas. Hardani adalah dalang per buatan jahat itu,” te-gasnya.

Saat ini, keluarga Priya hanya bisa memantau proses berjalan-nya sidang PK Hardani. Namun, Namun Sarli menegaskan bahwa pihaknya akan turut mengawasi agar terpidana mati itu tidak lepas dari jeratan hukum. (yog/ong)