BANTUL- Pelarian Udiyanto alias Udik,48, berakhir sudah. Setelah buron selama hampir sepekan, peracik minuman ke-ras (miras) oplosan yang mene-waskan 12 orang itu dicokok polisi, Kamis (19/5) dini hari. Polsek membekuk Udik di salah satu penginapan di wilayah Solo, Jawa Tengah.Kasatreskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo menyatakan, usai ditangkap Udik digelandang ke rumah kontrakannya di Jalan Kudus No. 7, Kasongan, Bangunjiwo, KasihanDi tempat inilah pria kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah itu me-racik sendiri minuman mema-tikan itu. Nah, dari situlah po-lisi mengungkap racikan maut bahan baku oplosan. Berdasarkan keterangan ter-sangka, oplosan diracik meng-gunakan tiga bahan utama.Yakni, air mineral, etanol, dan pemanis buatan. Komposisinya, setiap galon air (lebih kurang 18 liter) berbanding 4 liter etanol.Dalam sekali racikan Udik meramu 10 galon air dicampur 40 liter eta-nol, ditambah satu bungkus pemanis buatan. Setelah jadi oplosan kemudian dituangkan ke dalam 230 botol minuman mineral ukuran 600 mililiter untuk dipasarkan. “Etanol diperoleh dari Solo. Kadarnya mungkin sekitar 80 hingga 90 persen,” ungkapnya kemarin (20/5).Dari kontrakkan tersangka, polisi mengamankan barang bukti ber upa 11 botol oplosa siap edar, sebungkus pemanis bua-tan, dan teko.Sebelum buron, Udik meraik oplosan kali terakhir pada Kamis (12/5).Racikan terakhir itulah yang menggegerkan publik. Bagi polisi Udik bukanlah wajah asing. Lebih dari setahun warga Dusun Caben, Sumbermulyo, Bambanglipuro itu menjalani pekerjaan sebagai peracik oplosan.Selama itu pula Udik kerap tersandung hukum karena kepemilikan miras. Bahkan, salah satu anak Udik pernah terjaring razia miras yang di-gelar Satres Narkoba Polres Bantul pada minggu lalu. Se-bagai pemain lama, Udik juga kerap berhadapan dengan hakim di pengadilan.Namun, pria paruh baya itu tak pernah jera lantaran hukuman yang dikenakannya tidak se padan. Seringkali hanya berupa denda. Itu lantaran penyidikan hanya berdasarkan tindak pidana ringan (tipiring).Tidak lama lagi Udik bakal kembali di hadapkan ke meja hijau. Tentu saja dengan anca-man hukuman yang jauh lebih berat. Tak lagi tipiring, tapi pa-sal berlapis. Yakni, Pasal 204 KUHP serta Pasal 136 dan Pasal 137 Undang-Undang No. 18/2012 tentang Pangan. Ancaman hu-kumannya seumur hidup, atau seringan-ringannya bisa men-capai 20 tahun penjara.Bukan tidak mungkin pihak kepolisian bakal menambah sangkaan dengan Pasal 196 dan 197 Undang-Undang Nomor 36/2009 tentang Kesehatan. Pertimbangannya, oplosan ra-cikan Udik mengakibatkan hi-langnya nyawa seseorang. Selain itu, bahan yang digunakan juga tak sesuai peruntukkannya. “Pasal-pasal ini bisa dikenakan karena ada yang meninggal dunia setelah mengonsumsi oplosan itu,” ungkapnya.Tertangkapnya Udik bakal me-nambah panjang deretan para tersangka. Salah satunya, Slamet Winangsih alias Mamik yang disebut-sebut sebagai pemasar oplosan maut racikan Udik. Sejak kasus oplosan maut mencuat, Mamik diperiksa po-lisi pada Sabtu (14/5).Namun, warga RT 02, Dusun Ngoto, Bangunharjo, Sewon itu di-lepaskan sehari kemudian ka-rena minimnya bukti yang mengarah kepadanya. Saat itu, status bapak tiga anak itu sebagai terperiksa.Kini, Mamik tak akan bisa berbuat banyak. Apalagi, Udik mengakui bahwa dirinya men-jual oplosan kepada Mamik untuk dijual lagi. Hal itu juga diakui Mamik saat diperiksa penyidik. “Mamik bakal dijerat dengan pasal turut serta. Dalam waktu dekat ini kami layangkan panggilan,” tegas Anggaito.Adapun, Feriyanto, penjual mi-ras oplosan lainnya yang kini men-dekam di tahanan Mapolres Ban-tul dijerat dengan Pasal 204 KUHP. Terkait jumlah peneggak oplo-san yang tewas, Anggaito me-mastikan hanya 12 orang. Se-puluh diantaranya warga Bantul dan dua lainnya dari Kota Jogja. Dia tak menampik adanya informasi tambahan dua orang yang diduga tewas juga karena oplosan maut racikan Udik.Hanya, validitasnya tak teruji.Sementara itu, Udik mengaku, selama menjalankan bisnis oplosan dia menggunakan ba-han baku yang sama. Oplosan dipasarkan ke beberapa warung kelontong di wilayah Bantul. Per botol dibanderol Rp 11 ribu.(zam/yog/ong)