JOGJA – Kemenristek Dikti mengingatkan kepada para dosen tidak sekadar mengajar di kelas saja melainkan ikut melakukan penelitian. Sebab, intelektualitas seorang dosen tidak cukup dinilai dari mengajar tetapi berapa banyak karya penelitian yang dihasilkan. Bagi, dosen yang tidak melakukan penelitian maka tidak mendapatkan tunjangan kesejahteraan tambahan dari pemerintahan.

“Produktifitas seorang dosen dilihat dari berapa karya risetnya,” kata Direktur Direktorat Jenderal Penguatan dan Pengembangan Kemenristek Dikti, Ocky Karna Radjasa pada acara Workshop Kebijakan Menristekdikti dalam mendukung daya saing dan kemmandirian bangsa melalui penelitian dan pengabdian masyarakat di Hotel Tentrem, Jumat (20/5/2016).

Karena itu, Ocky meminta kepada Perguruan Tinggi (PT) ikut memberikan motivasi kepada dosen. Sehingga, keberadaan PT tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyakarat.

“Lebih bagus lagi hasil penelitian tersebut dapat diadopsi oleh industri dan masyarakat,” terang Ocky.

Ocky menambahkan, sampai saat ini publikasi karya ilmiah pada jurnal internasional masih diduduki PT di luar DIJ. Tahun lalu, karya ilmiah dosen yang banyak di publikasikan jurnal internasional adalah dosen ITB. Kemudian disusul UI dan UGM. “Jika DIJ untuk menempati urutan pertama maka para dosen PT DIJ harus rajin melakukan riset dan dipublikasikan di jurnal internasional,” papar Ocky.

Koordinator Kopertis, Bambang meminta PT Pariwisata dapat mengembangkan SDM dan Pengabdian Masyarakat. Selain melakukan risek, dosen memiliki kewajiban melakukan pengabdian masyarakat. “Jogjakarta menempati nomor 4 se-Indonesia dari sisi pengabdian masyarakat,” kata Bambang. (mar/ong)