KALIGRAFI: Dalam refleksi peringatan gempa bumi 2006, anak-anak di Manding, Bantul, membuat tulisan kaligrafi, kemarin (22/5). Tak hanya itu, mereka juga melakukan doa bersama agar peristiwa sepuluh tahun silam tak terulang

Semua Berdoa agar Tak Ada Gempa Besar Lagi

Banyak cara menggelar refleksi peringatan gempa bumi 2006. Seperti yang dilakukan ratusan anak yatim di kompleks perkantoran Manding, kemarin (22/5). Apa yang mereka lakukan?
ZAKKI MUBAROK, Bantul
TAK sekadar berlomba, mereka juga berdoa bersama agar peristiwa alam 10 silam yang memakan ribuan korban jiwa itu tidak terulang. Sebagian dari 900-an anak yatim yang memadati kompleks perkantoran Manding kemarin masih kecil.

Atau bahkan belum lahir saat gempa tektonik 27 Mei 2006 mengguncang DIJ dan sebagian wilayah Jawa Tengah. Mereka hanya tahu ada ribuan warga meninggal dunia dari cerita kedua orangtua, dan guru mereka. Atau juga melalui membaca buku.Kendati demikian, mereka seolah bisa merasakan kepedihan yang dirasakan warga DIJ.

Khususnya Bantul kala itu. Itu dapat dilihat saat sesi doa bersama sebelum Festival Anak Yatim Sholeh (FAYS) 2016 dimulai. Mereka tampak sangat khusuk. “Semoga tidak ada gempa besar lagi,” ucap salah satu peserta FAYS 2016 Daud Rustanto.

Siswa kelas VIII SMPN II Srandakan ini tidak mengetahui apa yang terjadi pada 27 Mei pagi 2006 lalu itu. Dia bahkan tidak ingat apapun
Maklum, saat itu dia masih balita. Tetapi, karena gempa itu tidak sedikit teman sebayanya yang kehilangan salah satu atau bahkan kedua orang tuanya. Bocah asal Poncosari, Srandakan ini mengatakan, rutin mengikuti berbagai kegiatan di Himpunan Insan Muslim Insyaallah Jadi Tumpuan (Himmatu) Srandakan. Di tempat ini, dia bersama anak-anak yatim lainnya di wilayah Srandakan belajar untuk merangkai masa depan. “Ada mengaji, outbond, dan pe-ningkatan bakat,” ucapnya.

Di Himmatu ini, bakat ter-pendam Daud terasah. Seperti keahlian menulis seni tulisan Arab atau yang disebut juga dengan kaligrafi. Menurut Daud, beberapa kali dia memeroleh pelatihan seni menulis arab. Seluruh peralatan disediakan Himmatu. “Sekarang udah berani ikut lomba,” jelasnya.

Kasi Kepahlawanan Kesetiaka-wanan Sosial dan Pengembangan Kehidupan Beragama Dinas Sosial (Dinsos) Bantul Sudadi me-ngatakan, FAYS sudah berjalan tiga tahun. Agenda ini bertujuan mengangkat prestasi anak yatim se-Bantul. Mengingat, anak yatim dalam tataran sosial kerap di-remehkan. “Kami ingin menunjuk-kan kepada masyarakat bahwa mereka punya kemampuan dan berprestasi,” tandasnya.

Ada 17 mata lomba yang di-pertandingkan. Diikuti 974 pe-serta. Selain anak yatim, pe-serta juga dari wali anak yatim. Namun, jumlahnya tidak begitu signifikan. Di antara lomba tersebut adalah pidato bahasa Indonesia, hafalan doa sehari-hari, kaligrafi, dan lomba busana muslimah syar’i. (din/ong)