Harnum kurniawati/radar jogja
SATU SEMANGAT: Masyarakat membubuhkan tanda tangan di atas banner putih dalam aksi damai bertema Selamatkan Pasar Tiban Minggu Pahing di sekitar panggung timur Alun-Alun Kota Magelang kemarin (22/5).

MAGELANG – Kecintaan warga Magelang terhadap kegiatan pengajian Minggu Pahingan yang dilaksanakan di sekitar Alun-Alun Kota Magelang terbukti tinggi. Itu tecermin dari aksi sejumlah warga dan komunitas di kota berslogan Sejuta Bunga tersebut kemarin (22/5).

Mereka menggelar aksi damai mendukung tetap berlangsungnya kegiatan yang telah ada sejak tahun 1958 itu. Pengajian ini diadakan setiap selapan atau 35 hari sekali yakni tiap Minggu Pahing dalam penanggalan Jawa.

Tak hanya kegiatan pengajiannya yang dipertahankan. Mereka juga ingin agar keberadaan para pedagang yang menyemarakkan pengajian itu tetap ada.

Aksi bertajuk Selamatkan Pasar Tiban Minggu Pahing tersebut berlansung tertib. Aksi damai terpusat di panggung timur Alun-Alun Kota Magelang.

Mereka menolak relokasi yang dilakukan Pemerintah Kota Magelang terhadap pedagang yang selama ini turut menyemarakkan pengajian.

Dalam aksi tersebut, mereka bersama mengumpulkan tanda tangan. Di atas sebuah banner berwarna putih, mereka menyatakan menolak relokasi.

Mereka juga berorasi. Selain itu, mereka mendatangi para pedagang kaki lima (PKL) untuk memberikan tanda tangan dukungan.

Condro Bawono Mbilung Sarawita, salah seorang penggagas aksi, mengkritik kebijakan pemkot. Dia sangat sangat menyayangkan keputusan pemkot untuk merelokasi pedagang di pasar tiban Minggu Pahingan. Telebih, kegiatan ini sudah ada sejak 1958.

Menurutnya, pasar tiban yang mengiringi pelaksanaan pengajian Minggu Pahingan bukan pasar biasa. Banyaknya pedagang yang berjualan di sana itu merupakan karya budaya warisan leluhur.

“Pasar tiban dan pengajian Minggu Pahing itu satu kesatuan. Tidak bisa terpisahkan,” katanya saat berorasi.

Menurutnya, relokasi para pedagang yang mengiringi kegiatan pengajian Minggu Pahingan ke lokasi lain bukan solusi. Apalagi, jika dalih relokasi itu karena persoalan arus lalu lintas yang agak terganggu atau merusak keindahan kota.

Condro menegaskan, relokasi para pedagang sama saja dengan memutus hubungan antara pasar tiban dan pengajian Minggu Pahingan. Bahkan, dia menyatakan menghilangkan aktivitas pedagang berarti menghilangkan nilai historikal, spiritual, dan kurtural yang selama ini ada di Pasar Pahingan.

“Ini bukan semata-mata tentang nilai ekonominya,” tandasnya. (cr1/ong)