JOGJA – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) prihatin dengan sistem pendidikan di tanah air. Keprihatinan itu karena pemerintah dinilai belum mengintegrasikan multidisiplin ilmu. Padahal, integrasi antar disiplin ilmu sangat penting karena dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama disiplin ilmu pada bidang ilmu kesehatan.

“Apoteker masih kesulitan bekerjasama dengan tim tenaga kesehatan lain seperti perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya. Sehingga, layanan kesehatan jadi parsial,” kata Dekan Fakultas Farmasi UAD, Dr Dyah Aryani Perwitasari disela-sela acara International Conference of Interprofessional Education 2016 di Hotel Melia Purosani, Sabtu (21/5).

Karena itu, Dyah menilai perlu adanya pendidikan yang holistik bagi mahasiwa di bidang kesehatan. Para mahasiswa perlu dikenalkan bekerja dalam satu tim bersama bidang ilmu lain. Kolaborasi antar tenaga kesehatan sangat penting supaya layanan kesehatan kepada masyarakat dapat berjalan maksimal. “Sehingga, masyarakat tidak ada yang dirugikan,” terang Dyah.

Selain itu, Dyah mengusulkan adanya kerjasama dalam melakukan penelitian oleh tenaga kesehatan. Hal itu telah dilakukan UAD dengan menjalin kolaborasi sejumlah universitas di empat Negara yaitu Belanda, Cina, Thailand, dan Filipina. Kerjasama berbentuk pertukaraan mahasiswa dan dosen serta pengembangan program penelitian dan pengabdian masyarakat lainnya. “Kerjasama dengan Filipina sudah kami lakukan selama dua tahun terakhir,” ujarnya.

Dosen University of The Philipine Manila, Roderick Salenga mengatakan, pendidikan yang holistik sudah dikembangkan sejak 1960-an. Namun baru 2008 dikembangkan jadi Interprofessional Education (IPE) yang saling terintegrasi di multidispilin ilmu seperti Farmasi, Kedokteran Gigi, Kesehatan Masyarakat dan lainnya. “Kerjasama dilakukan dengan banyak bidang lain karena belum semua masyarakat terlayani kesehatannya,” kata Roderick Salenga. (mar/ong)