Harnum Kurniawati/Radar Jogja
Menyebut “Paingan” di Kota Magelang, orang bakal tertuju dengan sebuah pengajian Minggu Pagi di Masjid Agung setempat. Dalam paingan itu, selain mendengarkan tausyiah, mereka bisa berbelanja aneka barang dengan harga murah di sekitar Alun-alun Kota Magelang. Ya, murah karena para pedagang tidak sekadar berdagang, tetapi juga ikut pengajian.

“Saya biasa jualan di depan Santa Maria, Kedungsari. Kalau paingan, dagangan saya bawa ke sini sambil ikut pengajian. Jadi berdagangnya ya sambil ngibadah, sambil ngaji. Juga sambil kirim doa untuk para leluhur. Jadi asal balik modal saja, sudah cukup,” kata Tatik, 55 tahun, yang berdagang di depan Masjid Agung saat Paingan.

Sayangnya, ikonik Kota Magelang yang sudah ada sejak 1958 itu bakal pudar. Seiring kebijakan Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Pemkot Magelang Joko Budiyono soal penataan pedagang kaki lima. Melalui surat bernomor 511.3/371/260 tertanggal 9 Mei, Pedagang Paingan masih diizinkan melakukan usahanya hingga Minggu Pahing 22 Mei lalu.

“Selanjutnya mulai Minggu Pahing tanggal 31 Juli dan seterusnya, PKL Tiban ini dilarang berjualan lagi di sekitar Alun-Alun. Kegiatan PKL direlokasi atau dipindahkan ke Lapangan Rindam IV/Diponegoro,” kata Joko Budiyono dalam surat edarannya.

Kebijakan ini mendapat tentangan dari berbagai kalangan. Spontan berbagai kelompok elemen masyarakat yang selama ini nguri-uri kabudayan di Kota Magelang melakukan penggalangan tanda-tangan menolak kebijakan yang dianggap jauh dari rasa keadilan dan kemanusiaan itu. Mereka berkumpul di Panggung Timur Alun-Alun untuk berorasi menentang kebijakan itu.

“Alasan pelarangan sangat sumir. Ini kegiatan budaya, religi dan kemasyarakatan. Tetapi dengan dalih ada peraturan daerah dan rapat dengan takmir masjid, kemudian kegiatan pengajian dan berdagang yang sudah puluhan tahun harus dilarang. Kami minta agar dikaji ulang,” kata salah satu penggagas aksi, Agung Nugroho dari Human Right Defender yang merupakan Fasilitator HAM untuk Masyarakat Adat.

Ditambahkan oleh budayawan Kota Magelang Condro Bawono, pihaknya sangat menyayangkan keputusan pemkot untuk merelokasi kegiatan yang sudah menjadi tradisi itu. Karena kegiatan itu bukan sekadar berdagang biasa, namun merupakan karya budaya warisan leluhur. “Berdagang dan pengajian Minggu Pahing itu satu kesatuan, tidak bisa terpisahkan,” tuturnya.

Menurut pria yang akrab disapa Mbilung Sarawita ini, relokasi bukan solusi. Karena relokasi sama saja dengan memutus hubungan antara proses berdagang tiban dan pengajian paingan. Jika menghilangkanya berarti juga menghilangkan nilai historikal, spiritual dan kurturalnya.

“Jadi bukan semata-mata tentang nilai ekonominya. Apabila kegiatan ini dianggap mengganggu keindahan fisik tata kota, maka solusinya bukan relokasi, melainkan penataan dan penertiban. Ini akan menambah nilai plus bagi Kota Magelang,” jelas pria yang saat ini menjabat Sekretaris FK Mitra Kota Magelang.

Founder Membaca Magelang Danu Wiratmoko menegaskan, aksi yang dilakukan para seniman dan budayawan bukan sekadar membela para pedagang. Namun juga sebuah aksi untuk mempertahankan budaya yang sudah ada. Apalagi pengajian selapanan atau 35 hari sekali itu kalau dihitung secara matematis dalam satu tahun hanya akan ada delapan sampai 10 kali kegiatan, karena terpotong puasa dan lebaran.

“Saya sempat bertemu dengan beberapa jamaah yang hadir. Mereka tidak setuju. Mereka mengatakan, lha kalo nanti para pedagang harus pindah, terus pengajian sepi, yang mau tanggung jawab siapa,” ungkap pria yang akrab disapa Danu Sang Bintang.

Ditambahkan Koordinator Kota Toea Magelang (KTM) Bagus Priyatna, paingan merupakan upaya ulama khos Magelang seperti KH Dalhar atau Mbah Mad dan KH Abdurrohman Chudlori atau Mbah Dur, untuk berdakwah di kalangan masyarakat bawah. Ribuan jamaah dari berbagai penjuru Magelang, Temanggung, Wonosobo bahkan Kabupaten Semarang, berdatangan. Mereka hendak mendengarkan khotbah, sembari memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena di sana ada yang berjualan makanan, minuman, klembak menyan, sandal, pakaian, kacang godog, tukang pijat, obat, tukang sulap, dan lainnya.

“Seolah-olah antara pengajian dan kegiatan berdagang di sana seperti dua sisi mata uang. Berbeda urusannya tetapi saling membutuhkan dan melengkapi. Sulit untuk dipisahkan. Mereka memegang tuntunan Nabi Muhammad SAW bahwa kejarlah urusan akhirat, tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia,” paparnya. (cr1/laz/ong)