SLEMAN – Ada pemandangan berbeda saat pertandingan Derby DIJ antara PSS Sleman melawan Persiba Bantul, kemarin (23/5).

Sebelum bertanding, para pemain PSS Sleman menyalakan lilin dan menggelar doa bersama di sebelah barat daya lapangan untuk mengenang kematian salah satu suporter mereka, Stanislaus Gandhang Deswara. Remaja yang akrab disapa Gandhang ter-sebut tewas setelah mengalami luka di kepala akibat terkena senjata tajam saat bentrok supporter di Jalan Magelang Km 14,5 Dusun Medari, Caturharjo, Sleman pada Minggu dini hari (22/5)
Doa dipimpin oleh kapten tim PSS Sleman Busari. Sebelum kick off dimulai, para pemain dan penonton yang hadir menghening-kan cipta sejenak. Pada pertan-dingan tersebut, pemain meng-gunakan ban hitam di lengan mereka sebagai bentuk peng-hormatan.

Di tribun sebelah selatan, kelompok suporter PSS Sleman yang mengatasnamakan diri Brigata Curva Sud (BCS) mem-bentangkankan spanduk ber-tuliskan Rest in Pride Gandhang. Ini merupakan bentuk support BCS untuk keluarga Gandhang.

Meski sempat waswas pasca-bentrokan, tak menyurutkan antusiasme penonton me madati Maguwo International Stadium (MIS) kemarin. Seluruh bangku penonton terisi penuh. Per-tandingan sarat gengsi dengan atmosfer yang luar biasa ini bisa berjalan dengan baik. Tidak ada saling ejek antarsuporter, yang ada hanya nyayian dukungan untuk tim kesayangan masing-masing.

“Alhamdulillah, suporter bisa bersikap dewasa dan mengikuti jalannya pertandingan dengan baik. Kalah-menang itu hal yang biasa,” ujar Manajer Persiba Bantul Endro Sulastomo ketika di-wawancarai usai pertandingan.

DIJ sendiri memiliki tiga tim yang bagus dan masing-masing memiliki kelompok suporter dengan fanatisme tinggi. Menurut Endro, itu merupakan harta benda yang luar biasa. Meng-ingat DIJ sendiri adalah provinsi yang tidak begitu luas. Hanya, Endro menyayangkan adanya oknum-oknum yang “menum-pang” dan menyebabkan ke-ributan. “Ke depannya jangan sampai ada oknum yang menumpang lagi. Ini harus ditindak tegas,” ujarnya.

Sementara itu, meninggalnya salah satu suporter PSS Sleman, Stanislaus Gandhang Deswara, 16, saat terjadi tawuran antar-suporter Minggu dini hari (22/5) meninggalkan duka mendalam bagi sekolah. Pihak sekolah menyebut Gandhang merupakan sosok yang berbakat dalam olah-raga khususnya sepak bola.

Saat Radar Jogja berkunjung ke SMAN 2 Ngaglik, tempat Gan-dhang menimba ilmu kemarin (23/5), suasana tampak lengang. Para siswa dan guru beraktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas masing-masing.

Sementara di dalam ruang siswa kelas XII, tampak terdengar sua-ra dari guru sedang me nasihati murid tekait insiden kerusuhan suporter. Sayup-sayup guru pe-rempuan tersebut menasihati siswanya agar selalu waspada dalam mendukung tim kesayangan.

Yuman mengatakan, setelah peristiwa Minggu dini hari, murid dikumpulkan di lapangan upa-cara. Pihak sekolah meminta siswa untuk tidak berbuat hal yang merugikan diri sendiri. “Hari ini sempat ada apel pagi, memberikan pengarahan kepada murid agar menjaga diri dalam pergaulan terutama saat keluar malam,” jelasnya.

Setelah melakukan apel pagi, ratusan murid ikut serta ke Wonogiri, Jawa Tengah untuk melayat. Gandhang sendiri telah dimakamkan pada Minggu (22/5). Namun, ketika itu yang hadir hanya teman-teman dekat, dari kelas khusus olahraga (KKO). “Kami menyediakan tiga bus. Sebab rekan-rekan korban banyak yang ingin melayat,” jelasnya.

Selama belajar di sekolah, Gandhang merupakan sosok yang berprestasi. Terutama di-bidang sepak bola. Ini dibuktikan dengan masuknya Gandhang dalam tim inti sepak bola SMAN 2 Ngaglik. “Waktu tes fisik penerimaan siswa KKO, dia yang terbaik mengalahkan ratusan orang yang mendaftar,” jelasnya.

Selama di sekolah, jelasnya, tidak ada sikap aneh apalagi menjurus pada kenakalan. Sebab, Gandhang sendiri diakui se bagai siswa yang mudah bergaul dan disenangi banyak teman.

” Bahkan kami para guru kaget mendegar berita anak kami meninggal dalam kerusuhan antarsuporter,” jelas-nya.

Soal keterlibatannya dengan kelompok suporter, menurut Yuman, pihak sekolah tidak mengetahui. Sebab yang ber-sangkutan tidak pernah cerita tenang keterlibatannya dalam mendukung tim sepak bola. “Memang sangat sulit me ngontrol 650 siswa beraktivitas di luar sekolah,” jelasnya.

Dia berharap, peristiwa ini men-jadi pelajaran bagi semua siswa untuk jaga diri dalam bergaul. Terpisah, Kepala Dinas Pen-didikan Pemuda dan Olahraga Sleman Arif Haryono menyam-paikan keprihatinan atas musibah yang menimpa salah satu siswa sekolah di Sleman. Dia me minta kepada pihak manapun untuk selalu menjaga diri dan men-junjung sportivitas dalam ber-olahraga. “Aktivitas olahraga jangan dino-dai dengan unsur-unsur kekera-san,” tegasnya. (cr4/bhn/ila/ong)