YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
MELANGGAR: Truk bermuatan pasir nekat melintasi Jalan Noto Sukarjo di Desa Pendowoharjo, Ngaglik, Sleman. Padahal, di ujung jalan tersebut jelas terpasang rambu larangan.
SLEMAN – Tak terhitung jalan kabupaten dan desa yang rusak akibat dilindas truk bermuatan pasir dan batu setiap hari. Padahal, pemerintah telah memasang rambu larangan melintas bagi truk muatan bahan galian C di beberapa titik.

Salah satunya, di ujung timur Jalan Noto Sukarjo, Desa Pendowoharjo, Ngaglik, Sleman. Namun, jalan tersebut justru dijadikan jalur utama oleh para pengemudi truk bermuatan over kapasitas. Jalur tersebut menjadi jalan pintas menuju Jalan Magelang. Dari Jalan Noto Sukarjo, truk berbelok ke selatan di simpang empat Jalan Raya Griya Taman Asri. Lalu, belok ke barat (kanan) ke arah simpang empat Lapangan Denggung.

Soal lemahnya pengawasan jalur truk pengangkut galian C diakui Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Sleman Sulton Fatoni. Menurutnya, Pemkab Sleman tak bisa melakukan penindakan terhadap truk pelanggar rambu lalu lintas karena pengawasan kegiatan pertambanan menjadi kewenangan Pemda DIJ dan kepolisian.

“Tugas kami sebatas memberi laporan kepada pihak yang berwenang,” jelasnya kemarin (24/5).

Pelaporan harus disertai bukti. Diantaranya, berupa foto pelanggaran pengemudi truk. Dengan bukti tersebut, Sulton berharap segera ada tindakan tegas dari aparat.

Sulton menegaskan bahwa terkait kepentingan lalu lintas, Dishubkominfo Sleman hanya berwenang menangani operasional angkutan terminal dan jumlah kendaraan umum. Khususnya, saat menjelang Lebaran. “Nanti kami akan perketat laju bagi kendaraan angkutan berat yang melintas di titik-titik tertentu,” ujar Sulton.

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Alam Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Sleman Sapto Winarno megatakan, pihaknya rutin melaporkan tindak pelanggaran lalu lintas truk galian C. Pelaporan bisa dua kali dalam seminggu. Tentang penindakkannya, Sapto menyerahkan sepenuhnya kepada Pemda DIJ dan polisi.

“Kalau tidak ditindak, yang dirugikan kami selaku pemangku wilayah. Dimana banyak jalan kabupaten yang rusak,” ungkapnya.

Selain pelanggaran lalu linas, Sapto membeberkan bahwa kawasan Kali Gendol dan Boyong merupakan dua “surga” bagi para penambang liar.(bhn/yog/ong)