MUNGKID – Polres Magelang menetapkan dua tersangka terkait perkara penambangan pasir ilegal. Mereka ditangkap karena terlibat penambangan menggunakan eskavator dan penambangan manual di Merapi. Selain itu, polisi juga mengejar satu orang lagi yang masuk daftar pencarian orang (DPO).

Penetapan tersangka ini setelah petugas memeriksa sembilan saksi. Mereka yang diperiksa dari kasus penambangan dengan alat berat maupun dengan penambangan manual. Beberapa barang bukti yang berhasil disita dari penambangan manual, di antaranya dua unit truk, tiga buah linggis, enam slenggrong, empat angkong, satu bodem, tiga ayakan, 1/5 ret pasir uang, uang Rp 275 ribu, empat bendel arsip nota, dan satu bolpoin.

Sementara dari kasus penambangan dengan alat berat, juga terdapat beberapa barang bukti yang diamankan. Di antaranya, dua unit ekskavator, dua ayakan, empat truk, uang tunai Rp 17.180.000, enam bendel nota, bolpoin dan stepless.

“Tersangka dijerat dengan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Sebagaimana dimaksud dalam pasal 158, melakukan usaha penambangan tanpa izin usaha penambangan, izin penambangan rakyat, IUPK. Ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun,” kata Kapolres Magelang AKBP Zain Dwi Nugroho kemarin.

Ia mengatakan, para tersangka ditangkap di lokasi berbeda. Untuk kasus penambangan manual, polisi menetapkan Munir, 55, warga Kecamatan Muntilan. Sementara kasus penambangan alat berat menetapkan Sujud, 43, warga Kecamatan Dukun sebagai tersangka. Munir berperan sebagai coordinator, sementara masih ada satu orang yang masuk DPO, FXS, 45. “Satu orang yang masuk DPO berperan sebagai pengelola penambangan dengan alat berat,” jelasnya. (ady/laz/ong)