DWI AGUS/RADAR JOGJA
DINAMIS: Pagelaran Jagat Pangkur di Concert Hall TBY yang diadakan akhir pekan kemarin. Ada tiga composer muda yang terlibat yakni (dari kiri) Anon Suneko, Budi Pramono, dan Nanang Karbito.

Membuka Diri, Dukung Seniman Muda dalam Berkarya

Gamelan identik dengan musik “orang tua”. Pandangan itu tidak sepenuhnya benar, sebab musik tradisi ini juga bisa tampil dan bertransformasi sesuai dinamika zaman. Inilah yang tersaji dalam pagelaran Jagat Pangkur di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) akhir pekan kemarin.

DWI AGUS, Jogja
BERBICARA mengenai gamelan, orang kerap mengidentikan dengan musik pelan dan membosankan. Di mata anak muda, gamelan kurang digemari karena dianggap tidak gaul dan ketinggalan zaman. Pandangan ini diubah 180 derajat oleh tiga composer muda, Boedi Pramono, Anon Suneko, dan Nanang Karbito.

Ketiganya hadir dengan napas baru musik gamelan dalam Jagat Pangkur. Musik tradisi ini diubah sesuai dinamika zaman saat ini. Melebur dan menyesuaikan diri untuk membongkar stigma membosankan. Upaya ini tertuang dalam setiap repertoar yang diusung oleh ketiga composer muda ini.

“Kami sepakat untuk mewadahi semangat para composer muda terutama di bidang gamelan. Harus membuka mata bahwa ada bibit baru yang harus diasah. Bukan bermaksud mengenyampingkan akar yang sudah ada, tapi melihat tradisi Jawa yang dinamis,” kata Penggagas Acara Djaduk Ferianto seusai pementasan.

Djaduk menjelaskan, ketiga composer ini memilili karakter yang berbeda-beda. Ketiganya memang berangkat dari karawitan, tapi memiliki sudut pandang baru terhadap kesenian ini. Hal ini, menurutnya, yang perlu dilihat dan direspons oleh masyarakat luas.

Kehadiran tiga composer ini juga bukti bahwa karawitan belum mati. Apalagi, ketiganya mampu mengembangkannya sehingga muncul gaya baru. Perpaduan ini tak ubahnya melestarikan kesenian tradisi yang berpijak pada dinamika zaman.

Semangat pelestarian juga tak hanya dimiliki oleh ketiga composer. Melalui tim masing-masing turut menularkan cara pandang akan karawitan. Upaya melestarikan dengan tidak memandang karawitan sebagai musik yang membosankan.

Djaduk mengibaratkan ini layaknya persemaian. Suatu saat para pelestari ini siap dipanen dan dibenihkan di berbagai daerah di Jogjakarta. Dia yakin musik gamelan dapat menjadi gaya hidup baru di kalangan generasi muda.

Langkah selanjutnya, menyediakan ruang apresiasi. Tujuannya menumbuhkan rasa percaya diri tampil dan unjuk karya. Cara ini juga bertujuan memetakan perkembangan kesenian karawitan yang dilakukan generasi muda.

“Sekarang saya yakin bahwa gamelan bisa berkembang karena tergantung dari wadahnya. Ini yang kompeten adalah pemerintah karena memang ranahnya. Sehingga kalau memberikan dukungan alangkah baiknya tidak setengah-setengah,” kritik Djaduk.

Disamping itu, dia juga berpesan agar pelaku kesenian yang sudah sepuh membuka diri. Tidak mencurigai ketika para seniman muda berkarya. Sebab, lanjutnya, selama ini masih ada pandangan bahwa karya yang dinamis dianggap merusak tradisi.

“Etiketnya mengajak para seniman untuk rembuk bersama. Sehingga benar-benar tahu apa yang dibutuhkan oleh para seniman. Yang sepuh jangan mencurigai yang muda. Ini adalah bentuk Jawa yang dinamis, bukan stagnan,” tandasnya. (ila/ong)