SLEMAN – Polda DIJ berjanji menuntaskan penyelidikan kasus terbunuhnya suporter PSS Sleman Stanislaus Gandhang Deswara, 16, dalam kericuhan yang terjadi di Jalan Magelang Km 14 Medari, Caturharjo, Sleman Minggu dini hari (22/5) lalu. Saksi dari kedua suporter sudah dihadirkan untuk dimintai keterangan.

Kapolda DIJ Brigjen Polisi Prasta Wahyu Hidayat menegaskan, tindakan kericuhan itu sudah masuk tindak pidana murni. Dia berjanji dapat segera menemukan pelaku dan diproses sesuai hukum berlaku.

“Pengurus suporter dan korlapnya sudah kami mintai keterangan. Kami akan terus dalami sampai pelakunya terungkap,” jelas Prasta usai silaturahmi bersama Pimpinan Muspida di Pandapa Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (24/5).

Polisi dengan bintang satu ini menjelaskan, penanganan kasus kericuhan suporter ini tengah ditangani Polres Sleman. Dia meminta kepada jajarannya untuk intens mengungkap kasus itu. Ke depan, guna menghindari bentrok suporter, pihaknya menerapkan Standard Operational Procedure (SOP) pengamanan terhadap suporter. Pengawalan terhadap para suporter akan diperketat.

“Mulai dari titik kumpul, lokasi pertandingan, hingga kembali ke kotanya akan kami kawal,” jelasnya.

Bupati Sleman Sri Purnomo mengingatkan kepada masyarakat Sleman untuk tidak terprovokasi dalam setiap aksi-aksi kekerasan. Kekerasan yang telah terjadi hendaknya dijadikan pelajaran bagi masyarakat, agar kejadian serupa tidak kembali terulang. “Saya harap pihak kepolisian bisa segera mengungkap pelakunya,” jelasnya.

Terpisah, Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X menilai kasus bentrokan suporter, yang berakhir dengan meninggalnya suporter PSS Sleman, karena pengaruh anak muda yang suka kekerasan. Menurutnya, fanatisme sepak bola tidak identik dengan kekerasan. “Mungkin anak muda maunya kekerasan, apa-apa selalu berkelahi,” ujarnya
HB X mengatakan, kekerasan suporter tersebut juga karena perilaku anak muda yang arogan. Untuk menghindari kejadian serupa, HB X mengatakan, hanya bisa dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran para suporter. Aparat keamanan hanya bisa memisah jika terjadi bentrokan antarsuporter.

“Tapi, kalau anak mudanya sendiri tidak ada kesadaran, kasus serupa akan terus terjadi. Boleh saja fanatik, tapi sepak bola kan tidak identik dengan kekerasan,” tuturnya.

Sedangkan anggota Komisi A DPRD DIJ Rendardi Suprihandoko mengusulkan supaya kelompok suporter di DIJ menyelenggarakan silaturahmi. Bahkan jika perlu difasilitasi oleh pimpinan daerah. Menurut Rendardi, fanatisme suporter saat ini sudah berlebihan dan cenderung ngawur. Suporter, tambah Rendardi, seharusnya hanya mendukung saat di lapangan saja. (bhn/pra/ila/ong)