KESEMPATAN tidak akan datang dua kali. Ungkapan itulah yang diyakini Sunni Hizbullah saat tawaran bergabung menjadi punggawa PSIM Jogja datang padanya. Keinginannya untuk terus berkembang dan memperbanyak jam terbanglah yang membuat dirinya menjatuhkan pilihan pada Pangeran Biru.

Ibarat pepatah Jawa, witing tresno jalaran seko kulino, Sunni kecil yang kerap diajak nonton pertandingan sepak bola oleh sang ayah, lama kelamaan jatuh cinta pada olahraga si kulit bundar ini. Sejak itulah, Sunni sudah berangan-angan menjadi pemain sepak bola profesional.

Karena niatnya yang besar, bakatnya pun mulai diasah secara serius dengan masuk ke klub sepak bola, meski saat itu dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Dulu bahkan sehari bisa nonton dua pertandingan sekaligus sama bapak. Karena bapak memang hobi nonton sepakbola,” kata pesepak bola kelahiran 11 Maret 1994 yang sudah mengenal klub-klub besar di tanah air sejak kecil.

Turnamen ISC Seri B mulai bergulir saat dirinya sudah menginjak usia 21 tahun. Keinginannya untuk terus mengasah skill dan menjadi pemain yang matang terus bergelora. Tawaran dari pelatih Erwan Hendarwanto pun seolah menjadi jalan keinginannya saat itu.

“Melihat usiaku yang sudah jalan 22 tahun, aku ingin punya kesempatan bermain yang banyak. Tak lain karena aku ingin berkembang, kalau jam terbang kurang bagaimana bisa berkembang,” tutur mantan pemain Persiba U-21 ini.

Pemain bek tengah yang sempat dipercaya menjadi kapten tim sepak bola Jogja dalam Pra PON 2016 ini secara individu mengaku masih banyak yang harus diperbaiki untuk menjadi pemain yang matang seperti harapannya. Tapi dirinya yakin, greget pemain muda PSIM yang masih bergelora, akan memberi efek positif bagi dirinya dan juga tim.

“Kami juga sudah saling kenal, karena sebagian juga pemain Pra PON, jadi gregetnya terasa banget,” jelas pemain yang berdomisili di Prambanan tersebut. (dya/dem/ong)

Sepakbola Sambil Kuliah

Keseriusannya menggeluti sepak bola tidak menutup jalan bagi dirinya untuk menuntut ilmu. Inilah juga yang sempat menjadi kekhawatiran orang tuanya. Namun, Sunni bisa membuktikannya dengan menjalani keduanya tanpa ada satu yang harus dikorbankan.

“Dulu kakakku sempat main bola juga waktu kecil, tapi akhirnya ngga boleh karena takut mengganggu pelajaran. Tapi ternyata aku bisa, orang tua pun akhirnya semakin support, karena bapak juga punya angan-angan anaknya ada yang bisa jadi pemain bola,” papar pria yang kini sedang merampungkan kuliahnya di FIK UNY.

Dukungan orang tua sepenuhnya diberikan begitu dirinya masuk klub pertama kali. Karena masih kecil, orang tuanya merelakan waktu untuk mengantar dan menjemput untuk latihan. Prambanan-Jogja pun ditempuh.

Tidak hanya sampai disitu, hingga saat ini dirinya menjadi pemain dengan kostum biru bermotif parang rusak, sang bapak tidak pernah absen saat dirinya berlaga membela tim.

“Kalau main kandang, bapak pasti nonton. Ya, semangat mainnya jadi dua kali lipat, pengen juga nunjukin ke bapak ‘ini anakmu pak”, gitu,” kata bungsu dari lima bersaudara ini.

Dirinya bersyukur, pilihannya bergabung dengan PSIM juga memberi kemudahan lain, yakni dalam hal pendidikan. Tinggal di mess, membuatnya bisa menghemat waktu dan mudah mengatur waktu antara latihan, pertandingan dan kuliah. Jarak mess yang hanya 5-10 menit dari kampus, membuatnya tidak kehabisan waktu dijalan.

“Manajemen dukung, kampus pun memberi kemudahan saat aku minta ijin jika harus absen kuliah karena ada pertandingan. Jadi sepak bola jalan, kuliah pun tetap jalan,” harap pesepak bola yang mentargetkan tahun ini lulus.

Setelah gelar S1-nya tercapai, Sunni juga masih memiliki cita-cita lain, yakni mengambil lisensi pelatih. Gambaran menjadi seorang pelatih tergambar jelas ketika dirinya sudah menjadi pemain sepakbola. Dirinya yakin, dunia persepakbolaan tanah air akan semakin baik ke depan, seiring dengan pencabutan pembekuan PSSI.

“Aku kuliah ambil kepelatihan, inginnya ilmu dan yang aku jalani sekarang bisa sejalan, makanya aku ingin ambil lisensi juga,” tandasnya.(dya/dem/ong)

Nama lengkap : Sunni Hizbullah
TTL : 11 Maret 1994
Klub : PSIM Jogja
Tinggi : 181 cm
Berat : 73 kg
Domisili : Prambanan, Sleman

Bapak : Heri Suraya
Ibu : Sri Kadarwati

Klub
– SSB Gama
– Persiba Bantul 2014-2015
– PSIM Jogja 2016-sekarang